Warga Yogyakarta Lockdown Sendiri Kampungnya, Begini Sikap Pemda

Reporter:
Editor:

Kukuh S. Wibowo

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Sejumlah pembatas  dipasang untuk menutup jalan ke arah Alun-alun Kota Tegal, Jawa Tengah, Jumat, 27 Maret 2020.  Jalanan di pusat kota lengang dan  penjualan  sejumlah toko dan rumah makan diperkirakan menurun hingga 80 persen. ANTARA/Oky Lukmansyah

    Sejumlah pembatas dipasang untuk menutup jalan ke arah Alun-alun Kota Tegal, Jawa Tengah, Jumat, 27 Maret 2020. Jalanan di pusat kota lengang dan penjualan sejumlah toko dan rumah makan diperkirakan menurun hingga 80 persen. ANTARA/Oky Lukmansyah

    TEMPO.CO, Yogyakarta-Dua hari terakhir di wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta muncul tren melakukan isolasi wilayah atau  lockdown sendiri karena resah terhadap penularan virus corona dari luar. Ada kampung yang membuat pagar betis tanpa memberi alternatif akses lain kepada orang yang akan masuk.

    Ada pula kampung yang lebih longgar dalam memberlakukan kesepakatan isolasi di wilayahnya. Wilayah yang memberlakukan lockdown lokal banyak terjadi di Kabupaten Sleman dan beberapa kampung di Kota Yogyakarta. "Untuk di Kota Yogya tidak ada kampung yang menutup diri," ujar Wakil Wali Kota Yogyakarta Heroe Poerwadi, Sabtu 28 Maret 2020.

    Heroe menuturkan pihaknya hanya akan mengintensifkan pengurus kampung  memonitoring secara persuasif, mendorong periksa dan melakukan isolasi mandiri 14 hari kepada pendatang yang punya riwayat berpergian dari luar daerah, khususnya zona merah pandemi corona.

    Menurut Heroe, dari Pemerintah Kota Yogya juga sudah ada mekanisme dan prosedur. Bahwa lurah akan memonitor melalui RW dan RT untuk mereka yang datang atau kembali ke Yogya. "Begitu sampai, (pendatang itu) harus periksa ke puskesmas terdekat. Terus melakukan isolasi diri selama 14 hari," ujarnya.

    Jika memang ada pergerakan pendatang, pengurus kampung bisa segera menghubungi tim survei puskesmas wilayah untuk jemput bola pemeriksaan. "Insyaallah kami sudah sejak awal menghadapi warga yang pulang dari bepergian di daerah risiko (terpapar Corona) dan yang pulang karena mudik," ujarnya.

    Adapun Bupati Sleman Sri Purnomo dalam pernyataan tertulisnya mengimbau warganya agar tetap tenang, tidak galau namun tetap waspada menghadapi wabah corona ini. "Untuk di desa dan dusun yang menutup akses jalan masuknya, kami harap tidak menutup sepenuhnya jalan masuk desa atau dusun itu," ujar Sri.

    Sri hanya menghimbau warga tetap waspada dengan cara mendorong otoritas desa atau dusun menerapkan screening bagi pendatang, khususnya yang usai berpergian dari luar Kabupaten Sleman. "Pendatang yang masuk dusun atau desa tertentu nanti disemprot dengan disinfektan yang disediakan di desa itu," ujar Sri.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    BPOM, Panduan Penerapan New Normal di Warung Makan

    BPOM memberi petunjuk mengenai penerapan new normal di berbagai tempat. Ada enam rekomendasi ikhwal tatanan baru ketika mengunjungi warung makan.