Tegal Lockdown, Wali Kota: Pakai Beton 2 Ton, Tak Mungkin Digeser

Reporter:
Editor:

Syailendra Persada

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Petugas kepolisian mengatur lalu lintas saat penutupan jalur Pantura dan dialihkan ke jalr lingkar utara (Jalingkut), Tegal, Jawa Tengah, Senin dinihari, 23 Maret 2020. Pemkot Tegal juga menutup akses masuk Alun-alun Tegal dan mematikan sebagian lampu jalan protokol guna pembatasan kendaraan yang akan masuk ke Kota Tegal. ANTARA/Oky Lukmansyah

    Petugas kepolisian mengatur lalu lintas saat penutupan jalur Pantura dan dialihkan ke jalr lingkar utara (Jalingkut), Tegal, Jawa Tengah, Senin dinihari, 23 Maret 2020. Pemkot Tegal juga menutup akses masuk Alun-alun Tegal dan mematikan sebagian lampu jalan protokol guna pembatasan kendaraan yang akan masuk ke Kota Tegal. ANTARA/Oky Lukmansyah

    TEMPO.CO, Jakarta - Wali Kota Tegal, Dedy Yon Supriyono, menerapakan pembatasan wilayah atau lockdown untuk menekan penyebaran Corona di Kota Bahari ini. Seluruh akses menuju Kota Tegal akan ditutup mulai 30 Maret sampai 30 Juli 2020.

    Selama masa lockdown itu, Dedy menyebut, setiap pintu masuk Kota Tegal akan ditutup menggunakan road barrier beton. ”Pakai beton beratnya 2 ton. Tak usah dijaga, aman tidak mungkin digeser,” ujarnya melalui sambungan telpon pada Kamis, 26 Maret 2020. Menurutnya, penutupan tidak berlaku untuk jalan provinsi dan nasional.

    Dedy mengatakan, kebijakan itu ia tempuh karena sebentar lagi memasuki musim mudik Lebaran 2020. Dia khawatir, banyak orang yang akan masuk Kota Tegal saat hari raya tersebut. Meski Dedy mengklaim, tak banyak warganya yang merantau ke lain daerah.

    Dia menyebut, justru warga Kabupaten Tegal yang banyak bekerja di DKI Jakarta dan Jawa Barat atau daerah lain dibanding wilayahnya. Dedy meminta dalam beberapa bulan ke depan warga Kabupaten Tegal tak berkunjung ke Kota Bahari tersebut.

    Namun, selama masa lockdown itu, warga Kota Tegal yang kembali akan melalui sejumlah mekanisme. “Harus kami periksa dulu. Saya tidak mau sembarangan menerima walaupun orang asli Kota Tegal. Kita tidak tahu membawa virus apa tidak.”

    Dedy mengaku telah berkomunikasi dengan Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo, terkait kebijakan mencegah penyebaran Corona ini. Menurut dia, Ganjar mempersilakan asal tak mengganggu operasional jalan provinsi dan nasional.

    “Saya sudah matur sama Pak Gubernur bahwa ada local lockdown demi kebaikan,” katanya. Komunikasi tersebut juga ia lakukan ketika akan menutup sejumlah tempat keramaian di Kota Tegal pada pekan lalu.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    ODP dan Isolasi Mandiri untuk Pemudik saat Wabah Virus Corona

    Tak ada larangan resmi untuk mudik saat wabah virus corona, namun pemudik akan berstatus Orang Dalam Pemantauan dan wajib melakukan isolasi mandiri.