Viral Keluarga PDP Corona Buka Plastik Jenazah, Begini Ceritanya

Reporter:
Editor:

Ninis Chairunnisa

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Petugas menyiapkan alat-alat medis di salah satu ruangan di Wisma Atlet Kemayoran, Jakarta, Ahad, 22 Maret 2020. Tower 6 nantinya akan dimanfaatkan sebagai rumah sakit yang terdiri dari 24 lantai. Menara yang akan digunakan sebagai tempat isolasi itu dapat menampung sekitar 1.750 pasien virus Corona. TEMPO/Muhammad Hidayat

    Petugas menyiapkan alat-alat medis di salah satu ruangan di Wisma Atlet Kemayoran, Jakarta, Ahad, 22 Maret 2020. Tower 6 nantinya akan dimanfaatkan sebagai rumah sakit yang terdiri dari 24 lantai. Menara yang akan digunakan sebagai tempat isolasi itu dapat menampung sekitar 1.750 pasien virus Corona. TEMPO/Muhammad Hidayat

    TEMPO.CO, Kendari - Seorang pasien dalam pemantauan atau PDP Corona asal Kota Kolaka meninggal saat menjalani isolasi di RSUD Bahteramas, Kota Kendari, Sulawesi Tenggara.

    Pasien berjenis kelamin perempuan berusia 34 tahun itu meninggal pada Senin, 23 Maret lalu. Ia meninggal setelah lima hari dirawat di rumah sakit pelat merah yang menjadi rujukan penanganan pasien Covid-19 di Sulawesi Tenggara.

    Sayangnya untuk pemulasaraan jenazah, pihak keluarga menolak mengikuti standar pemulasaraan jenazah pasien Corona seperti yang ditetapkan oleh Badan Kesehatan Dunia atau WHO meskipun masih berstatus PDP.

    Hal tersebut terungkap dalam dua video  yang beredar dan menjadi viral. Video pertama adalah keluarga pasien yang menolak pasien dibawa menggunakan peti jenazah dan dibawa dengan ambulance.

    Dalam video lain, di rumah duka, terlihat keluarga memeluk bahkan mencium jenazah. Terlihat dalam video, wraping atau pembungkus plastik di tubuh jenazah seluruhnya sudah dilepas.

    Juru Bicara Gugus Tugas Covid-19 Sultra, Rabiul Awal membenarkan jika keluarga  pasien ini memang  sedari awal menolak protokol pemulasaran jenazah pasien  positif Covid-19.

    Menurut Rabiul, jenazah sudah dibungkus dengan kantong atau plastik kedap udara demi pencegahan penyebaran virus sehingga jenazah sedianya siap dikubur saja. Namun sebelum dikebumikan, plastik itu dibuka.

    Rabiul mengatakan amat menyesalkan  sikap keluarga yang tidak mematuhi prosedur pemulasaraan jenazah dengan standar korban terinfeksi Covid-19. Meskipun, kata dia, saat ini pihaknya masih menunggu hasil laboratorium dariswab jenazah yang dikirim ke Kemenkes di Jakarta. Hasilnya akan diketahui empat atau lima hari ke depan.

    Seharusnya, menurut Rabiul, jenazah setelah dibungkus plastik kedap di rumah sakit, pihak keluarga tidak boleh lagi mendekati apalagi melihat jenazah, bahkan sampai membuka plastik pembungkus jenazah.

    “Rumah Sakit menawari protokol penanganan pemulasaran jenazah seperti jenazah yang positif Corona tapi keluarga pasien ngotot dan menolak, dibuktikan dengan tanda tangan suami pasien,” kata Rabiul.

    Menurut Rabiul, situasi seperti itu terjadi kepada keluarga korban karena kurangnya pemahaman dan kepatuhan mengenai standar penanganan jenazah yang sudah suspect meski belum ada hasil laboratorium. "ni memang berkaitan dengan pemahaman, kesadaran dan kepatuhan. Kalau mereka mengerti harusnya hindari itu. Tapi ini kan berkaitan dengan persepsi keluarga juga kan,” ujarnya.

     

     

    Menurut Rabiul, perbuatan tersebut sangat berisiko apalagi jika pasien yang meninggal itu dinyatakan positif Corona. Secara otomatis, baik keluarga maupun warga yang melayat langsung masuk kategori orang dalam pemantauan (ODP) dan wajib mengisolasi diri di rumah.

    "Kalau positif, masuk kategori ODP, isolasi diri, utamanya yang kontak langsung, jadi sudah koordinasi antara Dinkes Kabupaten Kolaka maupun Provinsi untuk melakukan pendataan," kata Rabiul.

    Senada dengan itu, Dokter Forensik Rumah Sakit Bhayangkara Kepolisian Daerah Sultra Komisaris Mauluddin menjelaskan tindakan yang dilakukan pihak RSUD Bahteramas sudah sesuai standar penanganan jenazah infeksi, yaitu membungkus jenazah dengan pakaiannya, mengkafaninya lalu dibungkus plastik kedap.

    "Maksudnya apa, supaya kuman ataupun cairan tubuh tidak berpindah ke orang lain. Sehingga diharapkan memang, pada saat penyerahan jenazah ini, keluarga tidak membuka lagi bungkus dari jenazah tersebut," kata Mauluddin.

    Dari kejadian tersebut, Mauluddin berharap dijadikan pembelajaran. Ia mengajak untuk tidak saling menyalahkan, tetapi saling menguatkan. "Ini semata-mata untuk melindungi masyarakat dan keluarga. Kita berharap semoga jenazah hasil tesnya negatif Covid-19," ujarnya.

    Penanganan jenazah dengan prosedur itu juga sudah diterapkan terhadap seorang pengemudi ojek online yang meninggal pada Ahad, 22 Maret lalu. Sebelum meninggal dia diduga diduga memiliki gejala seperti terinfeksi virus Covid-19. Jenazah dikafani lalu dibungkus menggunakan plastik selanjutnya dimasukkan ke dalam peti jenazah.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    ODP dan Isolasi Mandiri untuk Pemudik saat Wabah Virus Corona

    Tak ada larangan resmi untuk mudik saat wabah virus corona, namun pemudik akan berstatus Orang Dalam Pemantauan dan wajib melakukan isolasi mandiri.