Pemkot Yogya Bubarkan Kongkow untuk Cegah Infeksi Corona

Reporter:
Editor:

Amirullah

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pemkot Yogyakarta mengirim mobil pemadam kebakaran untuk menyemprotkan cairan disinfektan saat aksi Merti Hotel dan Restoran, Selasa (24/3). TEMPO/Pribadi Wicaksono

    Pemkot Yogyakarta mengirim mobil pemadam kebakaran untuk menyemprotkan cairan disinfektan saat aksi Merti Hotel dan Restoran, Selasa (24/3). TEMPO/Pribadi Wicaksono

    TEMPO.CO, Yogyakarta - Pemerintah Kota Yogyakarta mulai membubarkan kerumunan dalam masa tanggap darurat bencana wabah Corona. Ini dilakukan sejak Gubernur Yogyakarta Sri Sultan Hamengku Buwono X memberlakukan tanggap darurat bencana corona pada 20 Maret-29 Mei 2020.

    "Kalau cuma kongkow-kongkow tidak ada kepentingan sangat urgent kami minta warga tetap tinggal di rumah saja," ujar Kepala Satuan Polisi Pamong Praja Kota Yogyakarta, Agus Winarto, di Yogyakarta, Selasa 24 Maret 2020.

    Pembubaran kerumunan massa termasuk dilakukan di kawasan yang selama ini menjadi favorit nongkrong, seperti Titik Nol Kilometer, Alun Alun, kafe, game online, hingga mal.

    Seperti dua hari belakangan, sempat beredar luas di aplikasi perpesanan video pembubaran kerumunan di kawasan Titik Nol Kilometer yang dilakukan Satpol PP bersama kepolisian setempat.

    Agus membenarkan isi video tersebut. Dia mengatakan langkah itu untuk memerangi penularan Covid-19 di Yogyakarta yang sudah memakan korban jiwa dan puluhan lain menyandang status pasien dalam pengawasan (PDP).

    Agus mengatakan pemantauan dan pembubaran kerumunan yang berpotensi memperluas penularan Covid-19 itu sudah dilakukan sejak Sabtu, 21 Maret 2020. Atau sehari setelah pemberlakuan tanggap darurat bencana Corona di Yogya.

    Pemantauan kerumunan biasa dilakukan pada jam-jam rentan anak muda berkumpul mulai jam 10.00 hingga tengah malam. "Kalau game online, warung-warung itu jam 10.00 biasanya yang rentan (berkumpul). Kalau ruang publik biasanya malam hari," ujarnya.

    Agus menuturkan pembubaran kerumunan sejauh ini tidak dilakukan dengan paksaan, karena warga umumnya patuh. Sifatnya sekedar imbauan agar mereka tak berkumpul dulu di masa tanggap darurat wabah ini. "Kebetulan kami belum menemui kasus warga ngeyel (keras kepala). Mereka sadar lalu membubarkan diri," kata Agus.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Resep Mudah Membuat Disinfektan Saat Wabah Virus Corona

    Ketika wabah virus corona merebak, cairan disinfektan kian diminati masyarakat. Bila kehabisan, ada cara alternatif membuat cairan anti kuman itu.