Ma'ruf Amin Ingin Fatwa untuk Penanganan Jenazah Pasien Corona

Reporter:
Editor:

Endri Kurniawati

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Wakil Presiden Ma'ruf Amin membuka Musyawarah Nasional V Asosiasi DPRD Kota Seluruh Indonesia di Hotel Lombok Raya, Mataram, NTB, 11 Maret 2020. KIP Setwapres

    Wakil Presiden Ma'ruf Amin membuka Musyawarah Nasional V Asosiasi DPRD Kota Seluruh Indonesia di Hotel Lombok Raya, Mataram, NTB, 11 Maret 2020. KIP Setwapres

    TEMPO.CO, Jakarta - Wakil Presiden Ma’ruf Amin meminta Majelis Ulama Indonesia membuat dua fatwa sehubungan dengan penanganan jenazah penderita Corona atau Covid-19 dan aturan salat tanpa berwudu bagi petugas medis yang menangani pasien Corona. “Untuk antisipasi ke depan, saya minta MUI dan ormas Islam untuk mengeluarkan fatwa,” kata Ma’ruf dalam konferensi pers di Gedung BNPB, Jakarta, Senin, 23 Maret 2020.

    Ada dua fatwa yang diinginkan Ma’ruf. Ia meminta agar ada fatwa untuk membolehkan jenazah penderita Corona tidak dimandikan. Pasalnya, terjadi kesulitan untuk mengurus jenazah penderita Corona di lapangan karena kurangnya petugas medis dan situasi tak memungkinkan. 

    Fatwa kedua, Ma’ruf meminta agar ada aturan bagi petugas medis yang memakai alat pelindung diri (APD) boleh salat tanpa wudu dan tayamum. Sebab, kata Ma’ruf, petugas medis harus memakai APD dan tidak boleh membukanya selama 8 jam. 

    “Kemungkinan dia tidak bisa melakukan kalau mau salat tidak bisa wudhu, tidak bisa tayamum, saya mohon ada fatwa. Misal tentang kebolehan orang boleh salat tanpa wudhu dan tayamum.” Menurut Ma’ruf, hal tersebut perlu diatur dalam fatwa MUI agar petugas medis yang menangani pasien terinfeksi Corona bisa tenang.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Perbedaan Rapid Test, Swab, dan TB-TCM dalam Deteksi Virus Corona

    Ada tiga tes yang dapat dilakukan untuk mendeteksi virus corona di dalam tubuh, yaitu dengan Rapid Test, Swab, atau metode TB-TCM. Simak perbedaannya.