Sultan HB X: Pasien Positif Corona Yogya Semuanya Kasus Impor

Reporter:
Editor:

Ninis Chairunnisa

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Sultan Hamengkubuwono X menyatakan penutupan destinasi wisata di Yogyakarta tak efektif cegah virus corona, karena sudah sepi pengunjung. Hal tersebut ia nyatakan usai menggelar rapat terkait wabah virus corona, dengan bupati dan walikota se-DIY di Ndalem Ageng, Kompleks Kepatihan, Yogyakarta, Kamis 19 Maret 2020. TEMPO/Pribadi Wicaksono

    Sultan Hamengkubuwono X menyatakan penutupan destinasi wisata di Yogyakarta tak efektif cegah virus corona, karena sudah sepi pengunjung. Hal tersebut ia nyatakan usai menggelar rapat terkait wabah virus corona, dengan bupati dan walikota se-DIY di Ndalem Ageng, Kompleks Kepatihan, Yogyakarta, Kamis 19 Maret 2020. TEMPO/Pribadi Wicaksono

    TEMPO.CO, Yogyakarta - Raja Keraton sekaligus Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X menuturkan seluruh pasien positif Corona yang ditemukan di Yogya kasusnya imported case atau berasal dari luar Yogya penularannya.

    “Dari lima orang yang positif Corona di Yogya semuanya (setelah) melakukan perjalanan ke luar Yogya,” kata Sultan di Kantor Gubernur DIY Kepatihan Yogya, Senin, 23 Maret 2020.

    Meski semua kasus positif Corona di Yogya hasil impor dari daerah lain, namun Sultan menilai kebijakan tutup wilayah atau lockdown belum layak diterapkan saat ini. "Memang kalau (akses perjalanan keluar masuk Yogya) ditutup mungkin betulnya. Tapi apakah kondisi itu apa tidak membuat rakyat semakin terpuruk? “ kata Sultan.

    Sultan pun menyatakan pemerintah DIY lebih memilih menyerukan kepada warga Yogya semuanya tinggal di rumah dan tak berpergian ke manapun. Setidaknya hingga dua pekan ke depan.

    Sultan juga mengatakan pemerintah DIY kesulitan menentukan apakah Yogya sudah bisa dikategorikan zona merah atau bukan. Sebab, dari semua kasus positif yang muncul, belum ditemukan penularan lokal atau dalam wilayah. Berbeda dengan daerah lain yang sudah mendeteksi penularan lokalnya.

    Kondisi seperti itulah yang akhirnya membuat Yogya sangat berhati-hati dalam mengambil kebijakan, khususnya isolasi wilayah. "Karena konsekuensi lockdown sangat besar. Semua potensi akan berhenti semua, ini yang mempersulit,” kata Sultan.

    Paling dekat, Sultan mengisyaratkan lockdown secara lokal atau membatasi warga berpergian ke kabupaten/kota yang masuk zona merah atau ada kasus positif Corona.

    Sultan menuturkan wabah Corona ini berbeda dengan bencana gempa tahun 2006 yang kasat-mata. "Sekarang ini, virus corona itu jika memasuki badan, tidak bisa kita rasakan, dan menyerangnya pun tak terduga-duga,” ujarnya.

    Menghadapi hal itu, ujar Sultan, ia berharap selayaknya warga bisa menjaga kesehatan, laku prihatin dan wajib menjalankan aturan baku dari sumber resmi yang terpercaya. "Saya yakin, karena rakyat Yogyakarta memiliki kadar literasi yang tinggi, tentu bisa membedakan mana yang berita hoax serta mana-mana yang benar dan nalar,” kata dia.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    ODP dan Isolasi Mandiri untuk Pemudik saat Wabah Virus Corona

    Tak ada larangan resmi untuk mudik saat wabah virus corona, namun pemudik akan berstatus Orang Dalam Pemantauan dan wajib melakukan isolasi mandiri.