Cerita Dokter Muda yang Tangani Corona: Tegang dan Was-was

Reporter:
Editor:

Syailendra Persada

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Petugas medis menggunakan pakaian pelindung saat mengontrol ruangan khusus untuk wabah Virus Corona di Ruangan Isolasi Infeksi Khusus Kemuning Rumah Sakit Dokter Hasan Sadikin (RSHS), di Bandung, Jawa Barat, Jumat, 24 Januari 2020. RSHS menyiapkan ruangan inap khusus dengan lima tempat tidur serta Tim Dokter dan petugas medis khusus yang siap siaga jika ada pasien suspek atau terinfeksi Virus Corona. ANTARA

    Petugas medis menggunakan pakaian pelindung saat mengontrol ruangan khusus untuk wabah Virus Corona di Ruangan Isolasi Infeksi Khusus Kemuning Rumah Sakit Dokter Hasan Sadikin (RSHS), di Bandung, Jawa Barat, Jumat, 24 Januari 2020. RSHS menyiapkan ruangan inap khusus dengan lima tempat tidur serta Tim Dokter dan petugas medis khusus yang siap siaga jika ada pasien suspek atau terinfeksi Virus Corona. ANTARA

    TEMPO.CO, Bandung - Seorang dokter di Rumah Sakit Umum Pusat dr. Hasan Sadikin Bandung,Kevin Fachri Muhammad, menceritakan pengalamannya menghadapi pasien yang diduga terinfeksi virus Corona (COVID-19).

    Dokter 28 tahun yang sedang residensi atau kuliah spesialis penyakit dalam dan bertugas di bagian Instalasi Gawat Darurat serta ruang isolasi khusus COVID-19 ini mengatakan menangani pasien pertama dan kedua di Bandung. “Waktu Corona baru mulai dideteksi di Indonesia saya kebetulan residen yang menerima pasien pertama dan kedua,” kata Kevin kepada Tempo, Ahad, 22 Maret 2020.

    RSHS mulai menerima pasien rujukan yang diduga terjangkit COVID-19 pada 26 Januari 2020. Kevin kini telah menangani 30-an orang pasien berstatus orang dalam pemantauan juga pasien dalam pengawasan. “Tegang ada lah tapi ke sini-sini sudah kayak sehari-hari enggak terlalu dipikirkan tapi tetap sesuai prosedur dan protokol," ujarnya.

    Kevin menuturkan mereka yang dicurigai Corona kadang yang hanya menunjukkan gejala batuk dan pilek. Bahkan ada yang tak merasakan sesak nafas. Namun, belakangan mereka malah dinyatakan positif Corona. 

    Kondisi seperti itu membuat ia harus lebih waspada. “Kami tetap skeptis makanya harus pakai alat perlindungan diri lengkap terlepas dari seberapa ringannya gejala,” kata lulusan Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran 2014 itu.

    Ia mengatakan sebenarnya sudah terbiasa menghadapi banyaknya pasien rujukan. Namun, Bedanya kini, dia harus menangani kasus batuk pilek yang tidak bisa dianggap remeh.

    Menurut dia, rasa takut menghadapi virus Corona harus ditekan untuk menangani pasien. “Kalau bukan saya yang ngasih aura positif buat pasien-pasien takutnya mereka malah jadi depresi atau bagaimana,” ujar Kevin.

    Kevin mengatakan sebagai dokter yang menangani Corona, ia juga harus jeli mencatat detil riwayat perjalanan pasien termasuk kemungkinan kontak dengan orang luar yang diduga positif Corona. Setelah itu mencatat gejala sakitnya, periksa darah, rontgen.

    Setelah terkumpul semua data itu dilaporkan ke tim infeksi khusus. “Tugas saya juga memberi obat-obatan ke pasien sesuai keluhannya,” kata dia.

    Hingga Jumat, 20 Maret 2020 ada 51 orang dalam pemantauan yang memeriksakan diri ke Instalasi Gawat Darurat dan bagian Rawat Jalan. Total jumlah orang dalam pemantauan yang periksa ke RSHS Bandung 189 orang.

    Direktur Perencanaan Organisasi dan Umum RS Hasan Sadikin, M. Kamaruzzaman mengatakan ada 17 orang pasien dalam pengawasan. Sebanyak delapan diantaranya positif Covid-19, terdiri dari lima orang lelaki dan tiga orang perempuan.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Resep Mudah Membuat Disinfektan Saat Wabah Virus Corona

    Ketika wabah virus corona merebak, cairan disinfektan kian diminati masyarakat. Bila kehabisan, ada cara alternatif membuat cairan anti kuman itu.