Psikiatri Unair Cerita Dokter Curhat Kewalahan Hadapi Corona

Reporter:
Editor:

Syailendra Persada

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Petugas medis menyiapkan ruang isolasi di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Cut Meutia, Aceh Utara, Aceh, Selasa 3 Maret 2020. RSUD Cut Mutia di Aceh Utara RSU Dr Zainoel Abidin di Banda Aceh merupakan rumah sakit rujukan bagi perawatan pasien terinfeksi virus Corona (Covid 19) di Provinsi Aceh yang telah siap dengan tenaga medis, ruangan dan peralatan khusus. ANTARA FOTO/Rahmad

    Petugas medis menyiapkan ruang isolasi di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Cut Meutia, Aceh Utara, Aceh, Selasa 3 Maret 2020. RSUD Cut Mutia di Aceh Utara RSU Dr Zainoel Abidin di Banda Aceh merupakan rumah sakit rujukan bagi perawatan pasien terinfeksi virus Corona (Covid 19) di Provinsi Aceh yang telah siap dengan tenaga medis, ruangan dan peralatan khusus. ANTARA FOTO/Rahmad

    TEMPO.CO, Jakarta - Residen psikiatri Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga (Unair), Surabaya, Frida Ayu, mengatakan beberapa dokter yang menangani pasien virus Corona (Covid-19) mengalami emotional hijacking. Frida menjelaskan, emotional hijacking menggambarkan situasi di mana seseorang begitu kewalahan oleh suasana perasaannya.

    "Beberapa mengalami emotional hijacking sehingga mengalami gangguan fokus kerja, sulit tidur, dan sebagainya," kata Frida kepada Tempo, Sabtu, 21 Maret 2020.

    Frida bersama rekannya, Zain Budi, membentuk kelompok dukungan atau support group di WhatsApp untuk para dokter yang menjadi garda depan penanganan Covid-19. Frida mengatakan, kelompok dukungan ini dibentuk agar para dokter yang menangani pasien Covid-19 dapat mencurahkan masalah psikologis mereka.

    "Orang-orang yang bukan frontliner saja mengalami gejala-gejala cemas, khawatir, bagaimana mereka yang berada di garis depan? Mungkin mereka akan mengalami gejala-gejala itu lebih berat," kata Frida.

    Dalam grup kelompok pendukung yang dibentuk Frida dan Zain tersebut, ada sekitar 12 orang residen psikiatri dan 48 dokter yang menangani pasien Covid-19. Para dokter tersebut bertugas kebanyakan yang bertugas di RSUD Dr. Soetomo dan RS Unair.

    Beberapa dokter yang tergabung dalam grup tersebut pun sudah menyampaikan cerita mereka. Menurut Frida, mereka pada umumnya khawatir karena harus berpisah dengan keluarga atau anak-anaknya.

    "Bahkan ada anak-anak yang enggan ketemu orang tuanya di rumah. Ketika ibunya datang, anak-anaknya ketakutan, itu sedih sekali bagi para frontliner. Ada juga yang baru menikah beberapa bulan harus tinggal terpisah dulu, tidak bertemu," kata Frida.

    Zain Budi mengatakan, beberapa dokter menghindari pulang ke rumah karena khawatir risiko menularkan virus kepada keluarga. Ada pula yang menitipkan anak-anak mereka di rumah orang tua atau mertua. "Kecemasan seperti ini umumnya dialami perempuan, karena sebagai ibu," kata Zain secara terpisah.

    Selain itu, kurangnya sumber daya manusia juga berimbas pada semakin rapatnya shift tugas para dokter. Hal ini turut menjadi beban tersendiri bagi para dokter pasien Covid-19.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Perbedaan Rapid Test, Swab, dan TB-TCM dalam Deteksi Virus Corona

    Ada tiga tes yang dapat dilakukan untuk mendeteksi virus corona di dalam tubuh, yaitu dengan Rapid Test, Swab, atau metode TB-TCM. Simak perbedaannya.