DPR: Impor Bawang Putih Menggerogoti Upaya Swasembada Indonesia

Oleh:
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Menanggapi kebijakan Kementerian Perdagangan ini, Wakil Ketua Komisi IV DPR, Hasan Aminuddin, mengatakan bahwa kebijakan demikian merupakan kebijakan akal-akalan.

    Menanggapi kebijakan Kementerian Perdagangan ini, Wakil Ketua Komisi IV DPR, Hasan Aminuddin, mengatakan bahwa kebijakan demikian merupakan kebijakan akal-akalan.

    INFO NASIONAL — Kementerian Perdagangan kembali membuka luas keran impor gula, bawang putih, dan bawang bombai. Menteri Perdagangan, Agus Suparmanto, beralasan saat ini terjadi kelangkaan dan kenaikan harga bawang putih mencapai lebih dari 60 persen. Langkah impor ini diklaim Agus sebagai langkah stabilisasi harga dalam rangka penanganan Covid-19.
     
    Menanggapi kebijakan Kementerian Perdagangan ini, Wakil Ketua Komisi IV DPR, Hasan Aminuddin, mengatakan bahwa kebijakan demikian merupakan kebijakan akal-akalan. Kebijakan ini menurutnya dapat merugikan petani yang telah bekerja sama dengan importir yang patuh terhadap kebijakan wajib tanam 5 persen. Lebih jauh kebijakan demikian dinilainya akan menggerogoti upaya swasembada bawang putih Indonesia.  
     
    “Semangat di Nawa Cita itu membangun kemandirian untuk ketahanan pangan. Indonesia tidak menutup kesempatan Impor karena merupakan bagian dari global supply chain. Namun syarat impor dan kewajiban tanam 5 persen itu mutlak harus dipenuhi sebagai upaya menuju swasembada,” katanya 
     
    Tahun 2017 pemerintah sudah tegas dengan langkah menuju swasembadanya melalui penyiapan 1.900 hektare lahan tanam bawang putih. Tahun 2019 kemarin sudah ada 110 kabupaten yang menanam bawang putih di 20-30 ribu hektare lahan.
     
    Tahun 2020 ini diproyeksikan akan terdapat 40-60 ribu hektare yang siap, dan 2021 akan mencapai 80-100 ribu hektare. Kementerian Pertanian sendiri mengakui telah menghitung ada 600 ribu hektare lahan yang siap untuk ditanam bawang putih.
     
    “Kebijakan Swasembada ini harusnya di dukung dengan tetap patuh pada syarat yang harus dipenuhi oleh importir. Bukan membiarkan importir tertentu melenggang tanpa memenuhi syarat impor dengan dalih stabilisasi harga,” katanya. 
     
    Legislator Daerah Pemilihan Jawa Timur II ini mengatakan, kebijakan impor bawang putih yang diteken Kementerian Perdagangan patut dicurigai diarahkan oleh importir nakal yang bekerja sama dengan supplier. Bahkan menurutnya tidak menutup kemungkinan terjadinya monopoli dan kartel dalam kebijakan pembukaan keran impor saat ini. 
     
    “Kita sedang menghadapi situasi yang cukup perlu perhatian lebih. Ekonomi rakyat harus tetap hidup dalam situasi tekanan ekonomi dan persebaran Covid-19. Petani itu harus diberi kesempatan untuk kembali berjaya dengan pola kemitraaan bersama importir yang diwajibkan investasi 5 persen di dalam negeri. Mendag harusnya mendukung ini, bukan malah bikin kebijakan ugal-ugalan,” ujar Hasan.
     
    Hasan menilai impor bawang putih kemungkinan besar akan datang dari Cina karena negara tersebut merupakan supplier lebih dari 90 persen bawang putih Indonesia.
     
    "Dengan kondisi yang demikian potensi monopoli dan terbentuknya kartel akan terbuka. Pemerintah telah berupaya meminimalisir monopoli dan terbentuknya kartel bawang putih dengan menetapkan sejumlah syarat yang harus dipenuhi importir," kata Hasan. (*)

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Perbedaan Rapid Test, Swab, dan TB-TCM dalam Deteksi Virus Corona

    Ada tiga tes yang dapat dilakukan untuk mendeteksi virus corona di dalam tubuh, yaitu dengan Rapid Test, Swab, atau metode TB-TCM. Simak perbedaannya.