Bupati Purwakarta Bantah Analogikan Suling dengan Al-Quran

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • TEMPO Interaktif, Purwakarta: Bupati Purwakarta Dedy Mulyadi, membantah pernah menganalogikan antara seruling dengan Al-Qur'an dalam pengantarnya pada pegajian rutin Majelis Bale Paseban pada Kamis malam (7/8).

    Ia kemudian mendapat protes keras umat Islam karena penyataannya itu dinilai telah menodai agama. Menurut Dedy, hal itu hanyalah bentuk kesalahpahaman yang terjadi saat berlangsungnya tanya jawab antara dia dengan Euis Marfuah, Ketua Badan Kontak Pengurus Majleis Taklim Indonesia Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat.

    "Hanya salah persepsi saja," kata Dedi, usai memperdengarkan tanya jawab dirinya dengan Euis, kepada Tempo, akhir pekan kemain. Sejak awal, kata Dedy melanjutkan, dirinya tidak akan memberikan bantahan apa pun terkait ucapannya yang kemudian menyulut kontroversi dan berakhir di ranah
    hukum itu.

    Tapi, kemudian Dedy mengaku merasa perlu untuk meluruskannya. "Sebab, dalam kaset rekaman jelas sekali tidak ada ucapan saya yang mempersamakan antara kecapi suling (alat kesenian khas sunda) dengan Qur'an", kata Dedy.

    Dalam rekaman yang kata Dedy baru didapatkannya dari pengelola Gedung Dakwah -- karena rekaman yang ada di bagian Humas Pemda Purwakarta bermasalah -- itu, Tempo
    memang mendengar pernyataan Dedy yang mengatakan,"Saya tidak pernah menyamakan kecapi suling (alat kesenian khas sunda) dengan Al-Qur'an."

    Tetapi, dalam rekaman itu Dedy memang mengucapkan, "Kacapi suling dapat menggetarkan hati orang untuk mengingat Allah bagi yang memaknainya. Dan, belum tentu Al-Qur'an dapat menggetarkan hati orang yang mendengarnya."

    Ia menganggap ucapannya tersebut tidak dalam konteks membandingkan kecapi suling dengan Quran. Namun, ucapan Dedy tersebut menurut Ketua Forum Ulama Indonesia Kabupaten Purwakarta KH Abdullah Djoban, jelas-jelas merupakan perbuatan penistaan terhadap Qur'an yang menjadi "jantungnya" setiap umat islam.

    Hal sama juga ditegaskan Ketua Komunitas Umat Islam Purwakarta, KH Syah Alam Ridwan Al-Fatah. "Jalur hukum adalah hal tepat untuk mengadili Dedy," kata Syah. Permintaan maaf saja tidak cukup. "Sebab, Dedy sudah dua kali melakukan penodaan agama. Jadi
    tak perlu dimaafkan lagi," kata Djoban.

    FUI dan KUI bersama 15 elemen umat Islam di Purwakarta sudah melaporkan kasus dugaan penodaan agama oleh Dedy itu ke Polres Purwakarta. Ikut dilaporkan pula KH Masdar F. Mas'udi nara sumber dari Jakarta dan Tata Sukayat moderator acara pengajian dari Universitas Islam Negeri Gunung Jati Bandung.

    Proses penyelidikan dan penyidikan kasus tersebut kini telah diambil alih oleh Kepolisian Daerah Jawa Barat. Polisi telah merampas barang bukti berupa kamera video, cakram padat gambar pengajian dan kaset rekaman pengajian Majleis Bale Paseban itu. Polisi sudah
    meminta keterangan dari sejumlah saksi dari pihak MUI, pegawai Pemda Purwakarta, dan panitia pengajian.

    NANANG SUTISNA.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Hal yang Dilarang dan Dibatasi Selama Pemberlakuan PSBB Jakarta

    Anies Baswedan memberlakukan rencana PSBB pada 9 April 2020 di DKI Jakarta dalam menghadapi Covid-19. Sejumlah kegiatan yang dilarang dan dibatasi.