Jakarta Paling Banyak Kasus Positif Corona, Ini Sebabnya

Reporter:
Editor:

Ninis Chairunnisa

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Warga mengantre untuk melakukan tes corona atau COVID-19 di Poli Khusus Corona RSUA, Surabaya, Senin, 16 Maret 2020. Poli Khusus Corona dibuka pukul 08.00-20.00 WIB dengan batas jumlah pasien 100 orang per harinya, sebagai upaya mengoptimalkan layananan kepada masyarakat.. ANTARA/Moch Asim

    Warga mengantre untuk melakukan tes corona atau COVID-19 di Poli Khusus Corona RSUA, Surabaya, Senin, 16 Maret 2020. Poli Khusus Corona dibuka pukul 08.00-20.00 WIB dengan batas jumlah pasien 100 orang per harinya, sebagai upaya mengoptimalkan layananan kepada masyarakat.. ANTARA/Moch Asim

    TEMPO.CO, Jakarta - Juru Bicara Pemerintah untuk penanganan virus Corona atau COVID-19, Achmad Yurianto, mengatakan terjadi penambahan lagi kasus positif Corona di Indonesia. Saat ini angkanya melonjak menjadi 172 kasus atau bertambah 38 orang.

    Tak seperti sebelumnya, saat ini pemerintah mendapat data dari luar hasil penelitian Balitbangkes. "Ditambah lagi enam orang (teridentifikasi) dari spesimen yang diperiksa di Universitas Airlangga," kata Yurianto di Kantor BNPB, Jakarta Timur, Selasa, 17 Maret 2020.

    Yurianto mengatakan penambahan kasus terbanyak muncul dari daerah DKI Jakarta, Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Riau. DKI Jakarta disebut Yurianto menjadi penyumbang terbanyak.

    " Pintu gerbang DKI cukup besar. Mobilitas penduduk sangat tinggi dan kemungkinan terjadinya kontak cukup besar," kata Yurianto.

    Penambahan ini, kata Yurianto, adalah hasil tracing atau pelacakan Dinas Kesehatan DKI dengan dibantu unsur Kepolisian dan pemerintah daerah.

    Pada Senin lalu, jumlah kasus positif COVID-19 berjumlah 134 kasus. Adapun jumlah kematian sebanyak 5 kasus dan sembuh sebanyak 9 kasus.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Perbedaan Rapid Test, Swab, dan TB-TCM dalam Deteksi Virus Corona

    Ada tiga tes yang dapat dilakukan untuk mendeteksi virus corona di dalam tubuh, yaitu dengan Rapid Test, Swab, atau metode TB-TCM. Simak perbedaannya.