Kemenkes Jelaskan Faktor Penyebab Kematian Akibat Demam Berdarah

Reporter:
Editor:

Ninis Chairunnisa

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Suasana di salah satu ruangan bangsal anak khusus pasien terserang demam berdarah dengue (DBD) di RSUD TC Hillers Maumere, Kabupaten Sikka, NTT, Rabu, 11 Maret 2020. Hingga Rabu siang, jumlah kasus DBD di NTT sudah mencapai 3.109 kasus dengan jumlah korban yang meninggal mencapai 37 orang yang tersebar di 22 kabupaten dan kota se-NTT. ANTARA/Kornelis Kaha

    Suasana di salah satu ruangan bangsal anak khusus pasien terserang demam berdarah dengue (DBD) di RSUD TC Hillers Maumere, Kabupaten Sikka, NTT, Rabu, 11 Maret 2020. Hingga Rabu siang, jumlah kasus DBD di NTT sudah mencapai 3.109 kasus dengan jumlah korban yang meninggal mencapai 37 orang yang tersebar di 22 kabupaten dan kota se-NTT. ANTARA/Kornelis Kaha

    TEMPO.CO, Jakarta - Direktur Penyakit Tular Vektor dan Zoonotik Kementerian Kesehatan Siti Nadia Tarmizi mengatakan terdapat beberapa faktor yang menyebabkan angka kematian akibat demam berdarah dengue atau DBD, terutama di Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur menjadi daerah dengan angka kematian tertinggi.

    menjelaskan Sikka memiliki kondisi geografis yang jauh dari Kota Maumere. Di sana merupakan lokasi rumah sakit rujukan. Waktu tempuh yang dibutuhkan sekitar dua jam.

    "Ketepatan untuk menentukan kapan waktu dirujuk menjadi salah satu kunci," kata Nadia di kantor Kemenkes, Rabu, 11 Maret 2020.

    Selain itu, kata Nadia, kesiapan layanan kesehatan menjadi faktor penting. Beberapa rumah sakit dapat melayani pasien dengan jumlah yang terkendali dengan baik tapi jika terjadi lonjakan pasien maka akan muncul risiko.

    "Tidak semua puskesmas punya kemampuan yang sama tenaga kesehatannya sementara kasusnya sudah sangat banyak. Yang kedua, ada juga faktor masyarakat yang tidak mau dirujuk," kata Nadia.

    Dalam kasus yang tidak mau dirujuk biasanya terjadi pada kasus anak. Menurut Nadia, terdapat kasus di mana pasien seharusnya sudah dirujuk tapi keluarga menolak sehingga mengakibatkan penyakit bertambah serius.

    Sampai Rabu, Kemenkes sudah mencatat 17.820 kasus DBD di seluruh Indonesia dengan angka kematian mencapai 104 orang.

    Kasus DBD terbanyak muncul di Provinsi Lampung dengan 3.423 kasus yang terjadi di enam kabupaten dan kota. Sementara itu, NTT menempati posisi kedua untuk jumlah kasus dengan 2.711 kasus. Namun, NTT menempati posisi pertama untuk angka kematian dengan total 32 orang meninggal akibat DBD. Sebanyak 14 di antaranya berasal dari Kabupaten Sikka.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Perbedaan Rapid Test, Swab, dan TB-TCM dalam Deteksi Virus Corona

    Ada tiga tes yang dapat dilakukan untuk mendeteksi virus corona di dalam tubuh, yaitu dengan Rapid Test, Swab, atau metode TB-TCM. Simak perbedaannya.