Pemerintah Andalkan Kartu Kesehatan Cegah Corona dari Luar Negeri

Reporter:
Editor:

Ninis Chairunnisa

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Penumpang yang baru mendarat mengisi Kartu Kewaspadaan Kesehatan di Terminal 2 kedatangan Internasional Bandara Soekarno Hatta, Tangerang, Banten, Senin, 2 Maret 2020.  TEMPO/Charisma Adristy

    Penumpang yang baru mendarat mengisi Kartu Kewaspadaan Kesehatan di Terminal 2 kedatangan Internasional Bandara Soekarno Hatta, Tangerang, Banten, Senin, 2 Maret 2020. TEMPO/Charisma Adristy

    TEMPO.CO, Jakarta - Pemerintah mengklaim penelusuran kontak dan pemberlakuan health alert card atau kartu kewaspadaan kesehatan masih cukup bisa diandalkan untuk mengatasi penyebaran virus Corona di Indonesia saat ini.

    Kendati, jumlah kasus positif COVID-19 di Indonesia terus bertambah. Sampai 11 Maret 2020, total ada 34 kasus positif Corona yang 19 diantaranya merupakan imported case atau tertular dari luar negeri.

    Pemerintah menyatakan belum akan menambah kebijakan pembatasan penerbangan dari dan ke negara tertentu, selain empat negara yang telah ditetapkan, yakni Cina, Iran, Italia, dan Korea Selatan. "Tidak ada tambahan baru pembatasan penerbangan," ujar Juru bicara pemerintah untuk penanganan wabah virus Corona, Achmad Yurianto di Kantor Presiden, Jakarta pada Rabu, 11 Maret 2020.

    Untuk mengendalikan penyebaran virus Corona di dalam negeri, pemerintah mengutamakan contact tracing atau penelusuran kontak. Setiap ditemukan kasus yang terkonfirmasi positif, pemerintahan pusat akan memerintahkan daerah untuk segera melakukan penelusuran kasus.

    Dalam hal ini, pemerintah melalui Dinas Kesehatan akan menelusuri orang-orang yang diduga pernah melakukan kontak dengan kasus positif Corona, untuk selanjutnya diisolasi jika menunjukkan gejala-gejala, lalu dilakukan tes spesimen untuk mengkonfirmasi si pasien positif atau negatif COVID-19.

    Sementara untuk pengendalian masuknya penyebaran virus dari luar negeri, pemerintah memberlakukan kartu kewaspadaan kesehatan. Setiap orang yang baru tiba dari negara yang memiliki kasus positif COVID-19 akan diminta mengisi riwayat perjalanan untuk selanjutnya bisa diperiksa jika memiliki gejala awal terjangkit virus, yakni demam, batuk dan pilek.

    Berdasarkan data pemerintah, kata Yurianto, lebih dari dua ribu orang
    dari luar negeri masuk ke Indonesia per hari dan kebanyakan orang-orang yang masuk itu datang sendiri-sendiri alias tidak berkelompok.

    "Inilah yang menjadi perhatian kita, karena mereka (pasien positif COVID-19) datang juga dari (negara) yang sudah banyak kita temukan kasus penularan virus. Dari tetangga kita Singapura, Malaysia, Thailand, dan Filipina banyak juga kasus penularan. Dimana mereka juga mewaspadai kita. Jadi, saling mewaspadai dan memperkuat pintu batas," ujar Yurianto.

    Sementara alat thermal scanner di bandara, kata Yurianto, tidak akan bisa melacak suspect COVID-19  jika orang-orang masuk tidak dalam kondisi demam panas. "Tapi dengan health alert card, semua terdeteksi. Jika dia merasa dari luar negeri dan berasal dari daerah yang infeksinya cukup tinggi, bisa langsung datang ke rumah sakit kalau mulai merasakan tidak enak," ujarnya.

    Total sudah ada 34 kasus positif Corona di Indonesia saat ini. Dari 34 kasus itu, ada 8 pasien dari klaster Jakarta, sebanyak 19 kasus merupakan imported case (datang dari luar negeri) dan satu kasus dari klaster ABK Diamond Princess.

    Di luar klaster induk ini, ada tiga kasus dari sub klaster Jakarta. Sementara itu, dua kasus lainnya tertular dari pasien positif yang masih merupakan keluarganya. Kemenkes tidak memasukkan pasien yang tertular dari keluarga dalam klaster baru dan satu pasien lainnya belum diketahui asal penularannya. Dari 34 kasus itu, dua diantaranya sudah dinyatakan sembuh.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Resep Mudah Membuat Disinfektan Saat Wabah Virus Corona

    Ketika wabah virus corona merebak, cairan disinfektan kian diminati masyarakat. Bila kehabisan, ada cara alternatif membuat cairan anti kuman itu.