'Investor Kardus' di Balik Gejayan Memanggil Tolak Omnibus Law

Reporter:
Editor:

Syailendra Persada

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Mahasiswa, pelajar, jurnalis, dan aktivis pro-demokrasi berdemonstrasi dengan nama #Gejayan Memanggil menuju Gejayan, Yogyakarta (TEMPO/Shinta Maharani)

    Mahasiswa, pelajar, jurnalis, dan aktivis pro-demokrasi berdemonstrasi dengan nama #Gejayan Memanggil menuju Gejayan, Yogyakarta (TEMPO/Shinta Maharani)

    TEMPO.CO, Yogyakarta - Kardus air mineral dan plastik itu beredar di kalangan para peserta aksi Gejayan Memanggil di Yogyakarta pada Senin, 9 Maret 2020. Satu per satu peserta unjuk rasa yang berasal dari masyarakat sipil dan mahasiswa memasukkan uang ke kotak yang beredar itu.

    Anggota Aliansi Rakyat Bergerak, Himawan Kurniadi, mengatakan uang sumbangan dari para peserta aksi ini digunakan untuk menutup beberapa kebutuhan demonstrasi yang ditalangi dana pribadi tim. Aliansi Rakyat Bergerak merupakan salah satu motor unjuk rasa ini.

    "Uang patungan ini untuk menyewa mobil pick up dan pengeras suara. Buzzer kurang ide menuding aksi ini didanai investor. Kami kolektif dan patungan,” kata Himawan, Senin, 9 Maret 2020. Seusai aksi, disaksikan beberapa perwakilan massa, mereka menghitung duit patungan. Hasilnya, terkumpul Rp 2 juta.

    Demonstrasi Gejayan Memanggil kembali digelar di Yogyakarta pada Senin, 9 Maret 2020. Kali ini, mereka mengusung tema gagalkan omnibus law RUU Cipta Kerja.

    Unjuk rasa ini sudah dirancang sejak sebulan lalu. Menggandeng beberapa gerakan mahasiswa kampus dan organisasi lain di Yogyakarta, Aliansi Rakyat Bergerak mengkaji pasal-pasal krusial yang merugikan publik.

    Walhasil, setidaknya seribu demonstran ikut aksi. Sejumlah musisi juga mendukung gerakan mereka, di antaranya mantan vokalis Banda Neira Rara Sekar, vokalis Sisir Tanah Bagus Dwi Danto, kelompok musik Tashoora, Agoni, Spoer, Kepal SPI, dan Amuba.

    Pertemuan atau konsolidasi antar-mahasiswa dari berbagai kampus, organisasi buruh, organisasi non-pemerintah, organisasi profesi jurnalis, dan individu berlangsung beberapa kali di kantin Bonbin Universitas Gadjah Mada Yogyakarta. Sejumlah organisasi yang bertemu di antaranya Wahana Lingkungan Hidup Yogyakarta, Lembaga Bantuan Hukum Yogyakarta, Serikat Buruh Kerakyatan, Aliansi Jurnalis Independen Yogyakarta.

    Mereka membagi tim sebelum hari pelaksanaan demonstrasi. Ada tim kajian, tim humas, kampanye, dan advokasi. Tim kajian bertugas mengkaji pasal-pasal dalam Omnibus Law. Hingga akhirnya mereka menyusun kajian setebal 104 halaman.

    Tim kampanye bertugas menyederhanakan materi kajian, aktif kampanye di media sosial. Tim humas menjalin komunikasi dengan jejaring nasional.

    Aliansi Rakyat Bergerak juga menggalang donasi sebelum demonstrasi berlangsung melalui media sosial. Mereka mengumumkan dalam akun Gejayan Memanggil bahwa donasi terbuka untuk kebutuhan sumber daya logistik. Saat aksi, mereka juga saweran atau patungan untuk memenuhi kebutuhan aksi.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    PTM Lahirkan Klaster Covid-19 di Sekolah, 3 Provinsi Catat Lebih dari 100 Gugus

    Kebijakan PTM mulai diterapkan sejak akhir Agustus lalu. Namun, hanya anak 12 tahun ke atas yang boleh divaksin. Padahal, PTM digelar mulai dari PAUD.