Peneliti Eijkman: Ada Ego Sektoral dalam Penanganan Virus Corona

Reporter:
Editor:

Jobpie Sugiharto

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Nenek moyang Madagaskar berasal dari Indonesia kata Herawati Sudoyo. Deputi Direktur Lembaga Biologi Molekul Eijkman, Herawati Sudoyo telah berhasil meneliti bahwa nenek moyang Madagaskar berasal dari Indonesia, peneliatiannya tersebut dengan cara mencocokkan molekul DNA orang Indonesia dengan Madagaskar. Tempo/Jacky Rachmansyah

    Nenek moyang Madagaskar berasal dari Indonesia kata Herawati Sudoyo. Deputi Direktur Lembaga Biologi Molekul Eijkman, Herawati Sudoyo telah berhasil meneliti bahwa nenek moyang Madagaskar berasal dari Indonesia, peneliatiannya tersebut dengan cara mencocokkan molekul DNA orang Indonesia dengan Madagaskar. Tempo/Jacky Rachmansyah

    TEMPO.CO, Jakarta - Wakil Kepala Bidang Penelitian Fundamental Lembaga Biologi Molekular (LBM) Eijkman, Herawati Sudoyo, berpendapat bahwa masih ada ego sektoral di Indonesia dalam penanganan penyebaran virus Corona.

    Menurut dia, lembaga-lembaga penelitian dan universitas belum banyak dilibatkan dalam upaya pendeteksian Corona. Padahal ada universitas yang bisa menyumbangkan diri terhadap deteksi.

    Ada pula lembaga penelitian yang bisa digunakan seandainya terjadi pandemik virus Corona.

    "Di Indonesia ini mungkin agak ego sektoral," kata Herawati dalam diskusi "Korona, Kita Imun atau Melamun" kawasan Menteng, Jakarta Pusat, hari ini, Ahad, 1 Maret 2020.

    Herawati mencontohkan, di Cina laporan terjadi penyebaran virus Corona justru bukan berasal dari Kementerian Kesehatan melainkan dari rumah sakit yang bekerja sama dengan universitas.

    Dia berpendapat kolaborasi serupa mestinya dilakukan di Indonesia. Herawati pun menilai tak masalah jika suatu lembaga penelitian sebelumnya tak memiliki tupoksi melakukan pendeteksian.

    Menurut Herawati, pemerintah dapat dengan cepat mengubah status dan tupoksi lembaga tersebut menjadi lembaga deteksi.

    "Saya kira kita harus open minded. Coba dilihat, bagaimana supaya yang lain-lain dapat membantu."

    Penerima sejumlah penghargaan di bidang riset tersebutjuga menyinggung Instruksi Presiden Nomor 4 Tahun 2019 tentang Peningkatan Kemampuan dalam Mencegah, Mendeteksi, dan Merespons Wabah Penyakit, Panemi Global, dan Kedaruratan Nuklir, Biologi, dan Kimia (Nubika).

    Inpres itu memerintahkan setiap kementerian untuk berkoordinasi dalam penanganan infeksi yang mengarah kepada pandemik.

    Menurut Herawati, dalam aturan itu tertuang jelas bagaimana setiap kementerian dapat memberikan sumbangsih untuk menangani Corona.

    Dia memberikan contoh lain, yakni pelbagai lembaga di seluruh dunia saling membantu dan berbagi data ihwal penelitian mereka menyangkut virus Corona.

    Padahal biasanya, kata dia, lembaga-lembaga itu sangat kompetitif terkait penelitian mereka.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Resep Mudah Membuat Disinfektan Saat Wabah Virus Corona

    Ketika wabah virus corona merebak, cairan disinfektan kian diminati masyarakat. Bila kehabisan, ada cara alternatif membuat cairan anti kuman itu.