Tak Main Sosmed, Nadiem Pernah Sakit Hati Oleh Komentar Netizen

Reporter:
Editor:

Syailendra Persada

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Mendikbud Nadiem Makarim saat mengikuti rapat kerja dengan Komisi X DPR RI di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Kamis, 20 Februari 2020. Wacana pembayaran SPP menggunakan beragam sistem dompet digital, tidak hanya GoPay, dianggap akan memudahkan dan praktis. TEMPO/M Taufan Rengganis

    Mendikbud Nadiem Makarim saat mengikuti rapat kerja dengan Komisi X DPR RI di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Kamis, 20 Februari 2020. Wacana pembayaran SPP menggunakan beragam sistem dompet digital, tidak hanya GoPay, dianggap akan memudahkan dan praktis. TEMPO/M Taufan Rengganis

    TEMPO.CO, Jakarta - Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Nadiem Makarim, mengaku tak memiliki akun media sosial pribadi. "Saya enggak ada sosmed (social media) pribadi. Sudah lama. 2,5 tahun sebelum saya jadi menteri sudah off," kata Nadiem saat ditemui Tempo di kantornya, Jakarta, Jumat, 28 Februari 2020.

    Nadiem mengatakan, tak bermain media sosial justru membantu karena tidak harus mendengar apapun yang dikomentari netizen. Sebab, ia juga pernah sakit hati karena komentar-komentar tersebut.

    Meski tidak aktif di dunia maya, Nadiem yakin masyarakat masih bisa menilai kinerjanya dan melihat niatnya mengubah sistem pendidikan.

    Ia menuturkan, banyak orang mengira bahwa dukungan dari masyarakat selalu harus menggunakan strategi popularitas, seperti sering muncul di media dan aktif di media sosial. "Kenyataannya enggak. Saya enggak ada sama sekali sosmed, jarang saya di TV," ujarnya.

    Nadiem mengaku ingin orang-orang melihat hasil kebijakan dan pergerakan yang sedang ia ciptakan. "Saya ingin dinilai bukan berdasarkan penampilan saya, bukan berdasarkan orang senang dengan cara saya ngomong," katanya.

     


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Resep Mudah Membuat Disinfektan Saat Wabah Virus Corona

    Ketika wabah virus corona merebak, cairan disinfektan kian diminati masyarakat. Bila kehabisan, ada cara alternatif membuat cairan anti kuman itu.