Pakar: Pintu Masuk Indonesia Lemah Deteksi Virus Corona

Reporter:
Editor:

Endri Kurniawati

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Sejumlah calon jamaah umrah yang batal berangkat ke Jeddah lewat Singapura memeluk kerabatnya saat tiba di Bandara International Sultan Mahmud Badaruddin (SMB) II Palembang, Sumatera Selatan, Jumat 28 Februari 2020. Sebanyak 112 orang calon jamaah umrah dari Sumatera Selatan melalui bandara Changi, Singapura dipulangkan kembali ke tanah air akibat adanya penangguhan visa umrah dan wisata yang dikeluarkan Kerajaan Arab Saudi terkait penyebaran virus corona.  ANTARA FOTO/Nova Wahyudi

    Sejumlah calon jamaah umrah yang batal berangkat ke Jeddah lewat Singapura memeluk kerabatnya saat tiba di Bandara International Sultan Mahmud Badaruddin (SMB) II Palembang, Sumatera Selatan, Jumat 28 Februari 2020. Sebanyak 112 orang calon jamaah umrah dari Sumatera Selatan melalui bandara Changi, Singapura dipulangkan kembali ke tanah air akibat adanya penangguhan visa umrah dan wisata yang dikeluarkan Kerajaan Arab Saudi terkait penyebaran virus corona. ANTARA FOTO/Nova Wahyudi

    TEMPO.CO, Jakarta - Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia dan Persatuan Rumah Sakit Seluruh Indonesia menyatakan pintu embarkasi pelabuhan maupun bandara di Indonesia masih lemah dan banyak mengandalkan thermal scanner. Padahal, alat itu tidak bisa digunakan untuk mendeteksi virus Corona. “Hanya mengindikasikan awal orang dalam keadaan demam tinggi, bisa jadi karena virus. Virusnya apa belum tentu Corona,” ujar anggota Dewan Pakar organisasi itu, Hermawan Saputra dalam diskusi di Jakarta, Sabtu, 29 Februari 2020.

    Selain itu, Hermawan menuturkan, orang yang terinfeksi virus Corona juga belum tentu demam tinggi karena masa inkubasi virus 14 hari sampai timbul keparahan. Sehingga, jika seseorang baru terinfeksi 2-3 hari tidak akan terdeteksi. 

    Untuk mengantisipasi virus Corona, pemerintah khususnya Kementerian Kesehatan harus melakukan penguatan internal di Kantor Kesehatan Pelabuhan (KKP, atau Porth Health). Menurut Hermawan, KKP ini tidak sekedar hadir untuk duduk melainkan melakukan screening surveillance untuk memastikan orang yang keluar masuk Indonesia ini betul-betul steril dari virus Corona.

    Ia menyarankan pemerintah melakukan penguatan internal dalam mendeteksi virus Corona. “Ada penguatan infrastruktur kesehatan, mulai dari tenaga kesehatan, peralatan, sistem prosedur. Ini harus diterapkan.”

    Hermawan juga menyarankan agar ahli kesehatan masyarakat dan ahli epidemiologi atau ahli-ahli pada kasus wabah bersifat pandemi turut dilibatkan dalam surveillance. Yang terpenting juga harus ada kejujuran di antara ilmuwan dan elit politik. Seperti dunia intelijen harus bisa menangkap informasi sebelum betul-betul terbukti. “Artinya dalam dunia kesehatan harus dilakukan. Lakukan penguatan untuk upaya-upaya itu. Toh di wilayah kita belum confirm positif,” kata dia.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Cara Memberlakukan Kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar

    Presiden Joko Widodo telah menandatangai PP No 21 Tahun 2020 yang mengatur pelaksanaan Pembatasan Sosial Berskala Besar menghadapi virus corona.