Cerita Kekagetan Nadiem Makarim saat Pertama Kali Jadi Mendikbud

Reporter:
Editor:

Amirullah

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Mendikbud Nadiem Makarim saat mengikuti rapat kerja dengan Komisi X DPR RI di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Kamis, 20 Februari 2020.  TEMPO/M Taufan Rengganis

    Mendikbud Nadiem Makarim saat mengikuti rapat kerja dengan Komisi X DPR RI di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Kamis, 20 Februari 2020. TEMPO/M Taufan Rengganis

    TEMPO.CO, Jakarta - Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Makarim mengaku kaget ketika pertama kalinya memimpin birokrasi. "Siapa yang enggak kaget. Saya dari swasta gitu. Umur 35. Ya kaget lah," kata Nadiem saat ditemui Tempo di kantornya, Jakarta, Jumat, 28 Februari 2020.

    Nadiem menceritakan, di hari pertamanya bekerja sebagai Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, ia bingung dengan orang-orang yang bertugas sebagai ajudan datang dan mengikuti dirinya ke manapun. "Ini kenapa ada orang ngikutin saya terus. Siapa kamu? Saya enggak biasa diikutin banyak orang. Semua diurusin," kata dia.

    Di awal bekerja, Nadiem mengaku seperti orang yang sedang fobia dengan ruang terbatas atau claustrophobia. Terbiasa bekerja secara independen dan mandiri, Nadiem menganggap orang yang bekerja hanya untuk mengurus dirinya itu tidak efisien. Pendiri Gojek ini pun mulanya tidak ingin memiliki pengawalan.

    "Itu hal-hal yang buat saya agak kayak enggak efisien atau saya merasa just leave me alone. Saya biasa kerja independen, mandiri."

    Setelah beberapa bulan menjabat, Nadiem mengaku sudah mulai beradaptasi dan melakukan kompromi dengan protokoler. Ia memahami bahwa protokol membutuhkan dirinya aman, terutama menjaganya di kerumunan massa.

    "Dan saya mengerti sekarang kenapa saya butuh keamanan. Karena banyak sekali fans. Ya, fans kita agak agresif ya. Jadi sekarang tuh saya tahu kalau saya mulai selfie satu saja itu mulai bahaya," katanya.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Cara Memberlakukan Kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar

    Presiden Joko Widodo telah menandatangai PP No 21 Tahun 2020 yang mengatur pelaksanaan Pembatasan Sosial Berskala Besar menghadapi virus corona.