KPK Deteksi Mantan Sekretaris MA Nurhadi Ada di Jakarta

Reporter:
Editor:

Syailendra Persada

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Suasana saat penyidik KPK menggeledah kantor advokat Rakhmat Santoso and Partners, di Jalan Prambanan, Surabaya, Jawa Timur, Selasa, 25 Februari 2020. TEMPO/Nurhadi

    Suasana saat penyidik KPK menggeledah kantor advokat Rakhmat Santoso and Partners, di Jalan Prambanan, Surabaya, Jawa Timur, Selasa, 25 Februari 2020. TEMPO/Nurhadi

    TEMPO.CO, Jakarta - Tim penindakan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) melanjutkan pencarian terhadap mantan Sekretaris Mahkamah Agung Nurhadi. Setelah menggeledah sejumlah tempat di Surabaya dan Tulungagung, tim KPK kembali ke Jakarta.

    Pelaksana Tugas Juru Bicara KPK Ali Fikri mengatakan pihaknya mendapatkan informasi bahwa Nurhadi berada di Jakarta. Ada tempat di Jakarta yang dicurigai menjadi persembunyian buronan kasus suap pengaturan perkara di MA tersebut. Namun, Ali enggan menyebutkan lokasi penggeledahan itu.

    "Kami menindaklanjuti informasi keberadaan dia di Jakarta, malam ini teman-teman sedang bergerak di lapangan melakukan penggeledahan," kata Ali di kantornya, Jakarta, Kamis, 27 Februari 2020.

    Ali mengatakan sebelumnya tim KPK telah menggeledah sejumlah rumah kerabat Nurhadi di Surabaya dan Tulungagung yang diduga yang menjadi tempat persembunyian. Namun tim, gagal menemukan Nurhadi di sana.

    Tempat yang digeledah yakni kantor Pengacara Rahmat Santoso & Partners. Kantor itu milik adik ipar Nurhadi. Keesokan harinya, Rabu, 26 Februari tim bergerak ke rumah mertua Nurhadi di Tulungagung, Jawa Timur. Di sana, tim menyebarkan foto buronan kepada masyarakat setempat.

    Dari Tulungagung, tim kembali ke Surabaya untuk menggeledah rumah adik ipar Nurhadi yang lain, Subhan Nur Rachman. Menurut Ali, tim tak menemukan Nurhadi maupun menantunya Rezky Herbiyono di semua tempat itu.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    APBN 2020 Defisit 853 Triliun Rupiah Akibat Wabah Virus Corona

    Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati memprediksikan defisit pada APBN 2020 hingga Rp853 triliun atau 5,07 persen dari PDB akibat wabah virus corona.