Mahfud MD Jamin Aparat Tak Represif Hadapi Demo Buruh 23 Maret

Reporter:
Editor:

Ninis Chairunnisa

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Sejumlah buruh mengikuti aksi unjuk rasa menolak RUU Omnibus Law di Depan Istana Merdeka, Jakarta, Kamis 30 Januari 2020. Aksi tersebut menolak pengesahan RUU Omnibus Law Cipta Lapangan Kerja sebab isinya dinilai akan merugikan kepentingan kaum buruh dengan mudahnya buruh di PHK serta pemberlakuan upah hanya bedasarkan jam kerja. ANTARA FOTO/Asprilla Dwi Adha

    Sejumlah buruh mengikuti aksi unjuk rasa menolak RUU Omnibus Law di Depan Istana Merdeka, Jakarta, Kamis 30 Januari 2020. Aksi tersebut menolak pengesahan RUU Omnibus Law Cipta Lapangan Kerja sebab isinya dinilai akan merugikan kepentingan kaum buruh dengan mudahnya buruh di PHK serta pemberlakuan upah hanya bedasarkan jam kerja. ANTARA FOTO/Asprilla Dwi Adha

    TEMPO.CO, Jakarta - Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan Mahfud MD menjamin aparat keamanan tidak akan represif dalam menghadapi demo buruh pada 23 Maret mendatang terkait omnibus law RUU Cipta Kerja.

    "Saya katakan kalau kita jamin. Karena memang sudah ada SOP-nya dan polisi sendiri sudah menjamin akan menangani demo-demo itu dengan terukur sesuai SOP," kata Mahfud di kantornya, Rabu, 26 Februari 2020.

    Mahfud mengatakan polisi juga menjamin tidak akan sampai ada pelanggaran hak asasi manusia dan menghalangi orang untuk menyatakan pendapat. Sebab, unjuk rasa dilindungi oleh undang-undang.

    Jaminan itu juga disampaikan Mahfud dalam pertemuan dengan sejumlah konfederasi serikat buruh, seperti Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI), Federasi Serikat Pekerja Logam, Elektronik, dan Mesin Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (FSP LEM SPSI), dan Federasi Serikat Pekerja Indonesia (FSPI), pada Rabu pagi tadi.

    Ketua KSPI Said Iqbal mengatakan gabungan serikat buruh akan melakukan aksi unjuk rasa saat sidang paripurna pertama DPR setelah reses pada 23 Maret 2020. Unjuk rasa akan dilakukan secara serempak di masing-masing daerah. Sedangkan buruh-buruh yang berada di DKI, Jawa Barat, dan Banten akan melakukan aksi di Jakarta.

    Said Iqbal memperkirakan akan ada 50 sampai 100 ribu massa yang ikut unjuk rasa gabungan. "Aksi rencananya melibatkan semua serikat," kata dia.

    Dalam pertemuan dengan Mahfud, Said Iqbal juga menyampaikan alasan para buruh menolak omnibus law Cipta Kerja. "Ada sembilan alasan, misal kita sampaikan upah minimum hilang, pesangon hilang, jam kerja yang bersifat eksploitatif, outsourcing seumur hidup, kontrak seumur hidup, dan lain sebagainya," kata dia.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Perbedaan Rapid Test, Swab, dan TB-TCM dalam Deteksi Virus Corona

    Ada tiga tes yang dapat dilakukan untuk mendeteksi virus corona di dalam tubuh, yaitu dengan Rapid Test, Swab, atau metode TB-TCM. Simak perbedaannya.