KPK Geledah Rumah Sarang Walet Milik Nurhadi di Tulungagung

Reporter:
Editor:

Ninis Chairunnisa

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Penyidik KPK berjalan keluar dari kantor advokat Rakhmat Santoso and Partners usai melakukan penggeledahan, di Jalan Prambanan, Surabaya, Jawa Timur, Selasa, 25 Februari 2020. Penggeledahan itu diduga terkait kasus suap yang menyeret eks Sekretaris Mahkamah Agung, Nurhadi. ANTARA/Didik Suhartono

    Penyidik KPK berjalan keluar dari kantor advokat Rakhmat Santoso and Partners usai melakukan penggeledahan, di Jalan Prambanan, Surabaya, Jawa Timur, Selasa, 25 Februari 2020. Penggeledahan itu diduga terkait kasus suap yang menyeret eks Sekretaris Mahkamah Agung, Nurhadi. ANTARA/Didik Suhartono

    TEMPO.CO, Tulungagung – Komisi Pemberantasan Korupsi atau KPK menggeledah rumah mertua Nurhadi di Jalan Ade Irma Suryani Nomor 10 A RT 01 RW 04 Kelurahan Sembung, Kabupaten Tulungagung. Petugas sempat membagikan foto wajah Nurhadi dan menantunya kepada ketua RT untuk dipajang di tempat umum sebagai DPO atau buronan.

    Penggeledahan oleh komisi anti rasuah ini dilakukan pada pukul 10.30 WIB. Sebanyak tujuh kendaraan yang ditumpangi petugas KPK dan kepolisian memasuki rumah milik Hj. Sumarni, mertua Nurhadi.

    Rumah di pinggir jalan ini terlihat paling mewah di antara deretan rumah di sepanjang Jalan Ade Irma Suryani. Luasnya sekitar 600 meter persegi dengan lebar 30 meter dan panjang 20 meter. Seluruh area halaman tertutup pagar tembok tingg dan menyisakan pintu gerbang besi yang menampakkan bagian depan rumah.

    Ketujuh kendaraan penyidik langsung masuk ke dalam halaman rumah yang sangat luas. Selanjutnya petugas menutup pintu gerbang dan mengajak ketua RT dan RW masuk ke dalam.  

    Setelah melakukan penggeledahan selama empat jam, petugas keluar dari dalam rumah membawa tas koper dan kardus air mineral. Barang-barang itu langsung dimasukkan ke dalam mobil dan meninggalkan lokasi tanpa memberikan keterangan kepada media.

    Ketua RW 04, Nuryadi yang ikut mendampingi pemeriksaan mengaku tak tahu apa yang dicari petugas di dalam rumah. Ia hanya melihat sejumlah petugas memeriksa seluruh ruangan di rumah itu. “Seluruh kamar diperiksa,” kata dia kepada Tempo, Rabu, 26 Februari 2020.

    Meski bertetangga lama, Nuryadi mengaku baru pertama kali memasuki rumah itu. Selama ini, pemilik rumah tak pernah mengundang atau mengijinkan siapapun masuk, kecuali keluarga sendiri.

    Menurut Nuryadi, rumah besar itu terdiri dari tempat tinggal dan sarang walet. Tak ada keluarga Nurhadi yang menetap di sana selain seorang pembantu perempuan yang sudah tua bernama Mursiah. Selama ini, ia juga tak pernah mendapati Nurhadi masuk ke rumah itu.

    Sementara itu, Mursiah yang ditemui usai kepergian KPK mengaku tidak tahu apa yang dicari tamunya. Ia hanya menjelaskan status rumah itu sebagai milik Hj. Sumarni, ibu mertua Nurhadi.

    Selama ini, hanya anak-anak Nurhadi yang kerap datang ke rumah itu. Mursiah hanya bertugas merawat rumah itu.  

    Sosok Nurhadi dan istrinya memang asing di lingkungan itu. Bahkan warga yang berdomisili tepat di belakang rumah itu mengaku tidak pernah tahu wajah Nurhadi.

    “Sejak menjadi tetangganya 20 tahun lalu, saya baru tahu wajah Nurhadi dari foto yang diberikan pak polisi tadi,” kata istri Nursaid, Ketua RT 01 yang turut diajak penyidik KPK menggeledah rumah itu.

    Ia lantas menunjukkan tiga lembar kertas yang diterima suaminya dari polisi, bergambar foto Nurhadi, menantunya Rezky Herbiyono dan Direktur PT Multicon Indrajaya Terminal, Hiendra Soenjoto. Foto itu juga dilengkapi keterangan sebagai DPO (daftar pencarian orang), beserta no telepon (call center) KPK untuk dihubungi. “Gambar ini diminta dipajang di tempat umum agar diketahui masyarakat,” katanya.

    Marni, 56 tahun, warga lain yang tinggal tepat di belakang rumah yang digeledah mengisahkan status kepemilikan rumah tersebut. Menurut dia, rumah itu dibeli oleh Hj. Sumarni, mertua Nurhadi yang berdomisili di Surabaya pada 1973.

    Rumah itu selanjutnya diberikan kepada anak-anaknya, salah satunya Tin Zuraida, istri Nurhadi. “Sejak dulu sudah jadi sarang walet,” katanya.

    Nurhadi beserta menantunya, Rezky Herbiyono ditetapkan menjadi tersangka suap pengaturan perkara di Mahkamah Agung. Mereka diduga menerima suap dan gratifikasi senilai Rp 46 miliar dari Direktur PT Multicon Indrajaya Terminal, Hiendra Soenjoto. Ketiganya ditetapkan sebagai buronan KPK.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Wabah Virus Corona Datang, 13.430 Narapidana Melenggang

    Menteri Hukum dan HAM Yasonna Laoly memutuskan pembebasan sejumlah narapidana dan anak demi mengurangi penyebaran virus corona di penjara