Cerita Artidjo Alkostar Berkali-kali Tolak Suap saat Jadi Hakim

Reporter:
Editor:

Amirullah

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ketua Dewas KPK, Tumpak Hatorangan Panggabean (tengah) bersama empat anggota Dewas, Syamsuddin Haris (kiri), Harjono (dua kiri), Albertina Ho dan Artidjo Alkostar (kanan), memberikan keterangan pers di Gedung ACLCKPK, Jakarta, Selasa, 14 Januari 2020. Dalam kesempatan itu Dewan Pengawas KPK juga menyatakan keberadaan mereka tidak akan menghambat proses penyidikan kasus yang ditangani KPK. TEMPO/Imam Sukamto

    Ketua Dewas KPK, Tumpak Hatorangan Panggabean (tengah) bersama empat anggota Dewas, Syamsuddin Haris (kiri), Harjono (dua kiri), Albertina Ho dan Artidjo Alkostar (kanan), memberikan keterangan pers di Gedung ACLCKPK, Jakarta, Selasa, 14 Januari 2020. Dalam kesempatan itu Dewan Pengawas KPK juga menyatakan keberadaan mereka tidak akan menghambat proses penyidikan kasus yang ditangani KPK. TEMPO/Imam Sukamto

    TEMPO.CO, Jakarta - Anggota Dewan Pengawas Komisi Pemberantasan Korupsi Artidjo Alkostar bercerita pengalamannya saat menjabat Hakim Agung. Ia mengatakan pernah coba disuap oleh pengusaha dengan cek kosong.

    "Banyak orang datang ke saya, Pak Artidjo yang lain sudah loh, ya tampangnya pengusaha dari Surabaya," kata Artidjo saat mengisi acara diskusi di Gedung Pusat Pendidikan Antikorupsi, Jakarta, Selasa, 25 Februari 2020.

    Mendapat tawaran itu, Artidjo marah. Ia meminta si pengusaha itu keluar dari ruangannya. "Kalau tidak, kursi anda saya terjang atau saya suruh tangkap," ujar mantan hakim yang kerap memperberat hukuman koruptor ini.

    Menurut Artidjo, si pengusaha tak kapok. Beberapa waktu kemudian, ia dikirimi fotokopi cek. Artidjo kembali menolak cek itu.

    "Saya bilang dengan pedas, saya terhina dengan saudara itu. Jangan dilanjutkan lagi, kalau dilanjutkan urusannya menjadi lain," kata dia.

    Artidjo mengatakan juga pernah menangani kasus terkenal. Ia enggan menjelaskan kasus apa. Dia bilang, kali ini orang yang berperkara mencoba menyuapnya. Orang ini, kata dia, mencoba mendekati lewat kerabat dan keponakannya.

    Kepada keponakannya, kata dia, orang itu minta dipertemukan dengan Artidjo. Orang ini bahkan memberikan cek kosong. Artidjo bebas menuliskan angka yang dia mau. Artidjo kembali menolak suap itu.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Indonesia dapat Belajar dari Gelombang Kedua Wabah Covid-19 di India

    Gelombang kedua wabah Covid-19 memukul India. Pukulan gelombang kedua ini lebih gawat dibandingkan Februari 2021.