IDI: Mayoritas Pasien Corona Meninggal Karena Penyakit Penyerta

Reporter:
Editor:

Ninis Chairunnisa

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Petugas medis bersiap mengisolasi pasien saat simulasi penanganan pasien diduga terjangkit virus corona di Ruang Isolasi RSUP Sanglah, Denpasar, Bali, Rabu, 12 Februari 2020. Meskipun hingga saat ini belum ada yang terkena virus corona di Indonesia, pihak rumah sakit di Bali terus melatih kesiapsiagaan petugas medis. Johannes P. Christo

    Petugas medis bersiap mengisolasi pasien saat simulasi penanganan pasien diduga terjangkit virus corona di Ruang Isolasi RSUP Sanglah, Denpasar, Bali, Rabu, 12 Februari 2020. Meskipun hingga saat ini belum ada yang terkena virus corona di Indonesia, pihak rumah sakit di Bali terus melatih kesiapsiagaan petugas medis. Johannes P. Christo

    TEMPO.CO, Jakarta - Ketua Umum Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Daeng M Faqih mengatakan pasien yang meninggal karena virus Corona atau COVID-19 kebanyakan bukan karena virus melainkan karena komorbid atau penyakit penyerta.

    "Kasus meninggal mayoritas bukan murni karena virusnya, tapi karena kondisi komorbid yaitu penyakit pendamping. Dia sudah punya sakit kemudian terinfeksi virus karena punya sakit, daya tahan tubuh rendah, masuk, sakit jadi tambah parah," kata Daeng di Jakarta, Kamis, 20 Februari 2020.

    Sampai Kamis ini, wabah virus Corona yang pertama kali muncul di Wuhan, Cina pada akhir 2019 itu telah menginfeksi 75.727 orang di 26 negara. Sebanyak 74.578 kasus diantaranya terjadi di daratan Cina.

    Dari jumlah itu, sebanyak 2.129 orang meninggal dan 16.526 orang dinyatakan sembuh dari COVID-19 setelah menjalani perawatan.

    Daeng mengatakan persentase kematian yang disebabkan oleh Corona memang lebih rendah jika dibandingkan MERS atau H5N1 (flu burung). Hal itu adalah sebuah kabar gembira karena virus itu tidak seganas wabah-wabah sebelumnya.

    Ia pun menyebut korban yang meninggal kebanyakan sudah lanjut usia. Sebab, virus ini menyangkut persoalan daya tahan tubuh.

    "Meskipun tingkat keganasannya jauh lebih rendah dari virus-virus yang terdahulu, virus ini tingkat penyebarannya sangat cepat. Ini kabar tidak enaknya makanya belum beberapa bulan sudah 75.000," kata Daeng.

    Selain itu, menurut Daeng, salah satu masalah yang membuat virus Corona ini menyebar cepat karena belum ada vaksin untuk mencegah dan obat untuk mengobatinya.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    ODP dan Isolasi Mandiri untuk Pemudik saat Wabah Virus Corona

    Tak ada larangan resmi untuk mudik saat wabah virus corona, namun pemudik akan berstatus Orang Dalam Pemantauan dan wajib melakukan isolasi mandiri.