Keluhan Sultan Sepuh Cirebon tentang Budaya Indonesia

Reporter:
Editor:

Jobpie Sugiharto

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Sultan PRA Arief Natadiningrat, Sultan Sepuh XIV mengelus kepala seorang bocah sata bersama bakapknya melakukan sungkeman pada prosesi Chaos sambil menunggu puncak acara Panjang Jimat dalam perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW di Keraton Kesultanan Kasepuhan, Cirebon, Jawa Barat. TEMPO/Aditya Herlambang Putra

    Sultan PRA Arief Natadiningrat, Sultan Sepuh XIV mengelus kepala seorang bocah sata bersama bakapknya melakukan sungkeman pada prosesi Chaos sambil menunggu puncak acara Panjang Jimat dalam perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW di Keraton Kesultanan Kasepuhan, Cirebon, Jawa Barat. TEMPO/Aditya Herlambang Putra

    TEMPO.CO, Cirebon – Sultan Sepuh Cirebon XIV PRA Arief Natadiningrat mengatakan Indonesia darurat ketahanan budaya. Padahal, budaya menjadi daya tarik bagi wisatawan dari luar negeri.

    “Waktu saya ke Cengkareng, melihat ada anak-anak masih SD berangkat keluar negeri. Katanya mau ke Korea jalan-jalan,” ungkap Sultan Cirebon Arief Natadiningrat, pada hari ini, Senin, 17 Februari 2020 dalam bedah buku "Sunan Gunung Jati, Menggali Nilai Luhur di Masa Kesultanan Sebagai Pondasi Jati Diri Bangsa" di Bangsal Pagelaran Keraton Kasepuhan, Cirebon.

    Dia mempertanyakan mengapa anak-anak tidak diajak terlebih dahulu untuk berlibur di tanah air sambil mengenal budaya nasional.

    “Budaya kita beragam, mari kita kenali sejak masih dini." 

    Berdasarkan data Kementerian Pariwisata, Sultan Sepuh menjelaskan, 65 persen wisatawan asing yang datang dikarenakan ingin mengenal budaya Indonesia.

    Budaya pun menjadi perekat bangsa, kebangsaan, dan jati diri bangsa Indonesia.

    “Budaya merupakan way of life atau kehidupan bagi masyarakat Indonesia,” ungkap Sultan Sepuh Arief.

    Dia mengungkapkan bahwa telah terjadi pergeseran budaya, yakni spiritual menjadi material. Sultan Sepuh Cirebon mengatakan dari gotong-royong dan kebersamaan biudaya berubah menjadi konsumtif dan individual. Tradisi musyawarah untuk mufakat dalam pengambilan keputusan pun mulai ditinggalkan.

    “Mari kita perkuat ketahanan budaya kita. Itu ciri dan identitas bangsa kita,” tuturnya.

    Dadan Wildan, penulis buku "Sunan Gunung Jati" menjelaskan bahwa Sunan Gunung Jati sebagai pendiri Kesultanan Cirebon telah memberikan warisan besar bagi peradaban. 

    Warisan Sunan Gunung Jati adalah intelektual dan budaya. Di Cirebon terjadi akulturasi budaya yang baik, yakni budaya Islam dan busdaya lokal, dan budaya lainnya.

    "Kondisi ini yang bisa dijadikan sebagai contoh kehidupan berbangsa dan bernegara di Indonesia."


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Resep Mudah Membuat Disinfektan Saat Wabah Virus Corona

    Ketika wabah virus corona merebak, cairan disinfektan kian diminati masyarakat. Bila kehabisan, ada cara alternatif membuat cairan anti kuman itu.