Kepala BPIP Yudian Wahyudi: Pancasila Anugerah Terbesar Abad 20

Reporter:
Editor:

Amirullah

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Yudian Wahyudi melambaikan tangan dilantik sebagai Kepala Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) di Istana Negara, Jakarta, Rabu, 5 Februari 2020. TEMPO/Subekti

    Yudian Wahyudi melambaikan tangan dilantik sebagai Kepala Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) di Istana Negara, Jakarta, Rabu, 5 Februari 2020. TEMPO/Subekti

    Jadi, apa arti penting Pancasila untuk Anda?

    Saya ingin mengangkat ini sebenarnya. Yang ingin saya tegaskan, Pancasila itu sebetulnya anugerah terbesar Allah SWT kepada sejarah abad 20. Itu jangan salah. Tapi kalau kita tidak pandai bersyukur, nikmat sebesar ini akan hancur. Maka marilah kita bersyukur, dengan kembali ke persatuan, ke konsensus.

    Apa tantangan BPIP untuk membumikan Pancasila?

    Pada prinsipnya, BPIP ini ditugasi Presiden untuk melakukan banyak hal. Tentu yang paling fokus tadi sudah kita sering dengar yang milenial, karena 125 juta generasi milenial.

    Maka tantangan ini ibaratnya kalau bagi saya hutan belantara. Karena bukan dunia kita. Oleh karena itu, kami akan merangkul anak-anak milenial itu, influencer segala macam.

    Umumnya Pancasila dianggap sesuatu yang mengawang-awang, bagaimana caranya bikin milenial jadi tertarik?

    Nah, kami kan tidak bisa sendirian tuh. Kembali ke persatuan tadi. Maka kami sudah dikasih mandat, diperintahkan untuk bekerja sama dengan semua lapisan. Khususnya kementerian dulu kita tata yang sekarang ini bikin kurikulum segala macam. Tapi nanti bareng-bareng menyampaikan Pancasila dengan santai, enggak model indoktrinasi kayak dulu. Enggak. Santai saja, ada pesan-pesannya. Mungkin terucap, mungkin tidak terucap. Tapi kan bisa, misal gotong royong. Gotong royong itu kan kata asli Indonesia lah maksud saya.

    Ini kalau saya pakai bahasa hadist, buat lah mereka itu senang. Bahasa Arabnya, idkholus surur sodaqoh, menyenangkan orang itu sama dengan sedekah.

    Gaya penyampaiannya bakal rileks dong... 

    Nah ini contohnya, bagaimana anak milenial yang senang bola ya kita optimalkan. Begitu dengan pendekatan semua ini, jangan mengutuk lagi kayak dulu. Kita bawa mereka, yang penting tujuan tadi tercapai. Misal, kuliner santai-santai tapi sambil silaturahmi, diajak ngomong-ngomong tentang hal-hal yang tidak perlu dilakukan. Tapi dengan cerita, ‘kamu alami hoaks kayak apa’, nah itu kan akhirnya kita rasakan, ‘oh itu nggak bagus’. Dari situ ada kesimpulan, ‘oh kita harus hindari hoaks.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Polemik Aturan Ketenagakerjaan Dalam RUU Cipta Kerja

    Perubahan aturan ketenagakerjaan menurut pemerintah harus dilakukan agar mengundang investasi.