Nama Baru di Kasus Harun Masiku, Pengacara PDIP: Kusnadi

Reporter:
Editor:

Jobpie Sugiharto

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Donny Tri Istiqomah. Instagram/@donnytriistiqomah

    Donny Tri Istiqomah. Instagram/@donnytriistiqomah

    TEMPO.CO, Jakarta - Muncul nama baru dalam pusaran kasus suap komisioner KPU oleh kader PDIP Harun Masiku.

    Pengacara PDIP, Donny Tri Istiqomah, menyatakan dirinya mendapat titipan duit Rp 400 juta dari seorang staf petinggi PDIP untuk diserahkan kepada Komisioner KPU Wahyu Setiawan.

    Dia mengatakan uang itu didapatnya dari Kusnadi. Donny juga memastikan bahwa sumber uang itu adalah Harun Masiku.

    "Saya sudah kasih keterangan ke penyidik, memang saya dapat titipan uang Rp 400 juta dari Mas Kusnadi," kata Donny seusai diperiksa di Gedung KPK, Jakarta, hari ini, Rabu, 12 Februari 2020.

    Menurut Donny, uang Rp 400 juta itu kemudian ia berikan kepada kader PDIP Saeful Bahri, yang lantas menyerahkannya kepada Wahyu.

    Saeful Bahri ternyata menyerahkan uang tadi melalui bekas anggota Bawaslu yang juga kader PDIP, Agustiani Tio Fridelina. 

    Saeful Bahri juga kader PDIP sekaligus anggota staf Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto.

    Baik Wahyu, Saeful, dan Agustiani sudah ditetapkan menjadi tersangka. Sedangkan Harun Masiku, caleg PDIP dari Sumatera Selatan yang diduga menyuap, masih buron.

    KPK menduga Harun dan Saeful memberikan janji suap kepada Wahyu sebesar Rp 900 juta. Suap diduga diberikan untuk memuluskan jalan Harun menjadi anggota DPR lewat pergantian antarwaktu.

    Menurut KPK, realisasi suap diberikan dalam dua tahap. Pertama, pada pertengahan Desember 2019 sebanyak Rp 400 juta.

    Uang diberikan melalui Saeful, Donny, dan Agustiani Tio Fridelina. Uang inilah yang diakui oleh Donny ia terima dari orang bernama Kusnadi.

    Donny ikut ditangkap dalam operasi senyap kasus ini, namun dia tak dijadikan tersangka.

    Majalah Tempo edisi 11 Januari 2020 menyebut uang Rp 400 juta yang sempat melalui Donny dari petinggi PDIP.

    Donny menyangkal bahwa uang itu dari Hasto Kristiyanto. "Enggak mungkinlah, Sekjen digempol-gempol bawa uang kan," ujar dia.

    Hasto juga telah menyangkal terlibat kasus tersebut.

    "Informasi itu menunjukkan ada berbagai kepentingan untuk memggiring opini," kata dia seperti dikutip dari Majalah Tempo.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Polemik Aturan Ketenagakerjaan Dalam RUU Cipta Kerja

    Perubahan aturan ketenagakerjaan menurut pemerintah harus dilakukan agar mengundang investasi.