Mahfud Md Dikritik Karena Sebut Data Tim Veronica Koman Sampah

Reporter:
Editor:

Syailendra Persada

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan atau Menkopolhukam  Mahfud MD menyambangi Pulau Natuna, Kepulauan Riau pada Kamis, 6 Februari 2020. Mahfud hadir bersama dengan Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto dan Kepala BNPB Doni Monardo. TEMPO/Dewi Nurita

    Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan atau Menkopolhukam Mahfud MD menyambangi Pulau Natuna, Kepulauan Riau pada Kamis, 6 Februari 2020. Mahfud hadir bersama dengan Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto dan Kepala BNPB Doni Monardo. TEMPO/Dewi Nurita

    TEMPO.CO, Jakarta - Anggota Komisi Hukum DPR Taufik Basari mengkritik Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan Mahfud Md yang menyebut data orang Papua yang menjadi korban meninggal dan tahanan politik dari Veronica Koman sebagai sampah. 

    "Setiap data dan informasi yang diterima dari masyarakat sebaiknya ditelusuri terlebih dahulu dan dilakukan verifikasi sebelum menyatakan data tersebut valid atau tidak," kata anggota Komisi Hukum dari NasDem ini melalui pesan singkat, Rabu, 12 Februari 2020.

    Hal senada disampaikan anggota Komisi Hukum DPR Hinca Pandjaitan. Melalui akun Twitternya, Hinca menyampaikan Mahfud semestinya tak menggunakan diksi 'sampah' untuk menyebut data-data dari tim Veronica Koman.

    "Saya kira diksi yang dipakai Prof Mahfud tak baik memakai 'sampah' atas dokumen yang disampaikan Veronica Koman," kata Hinca. Politikus Demokrat itu mempersilakan cuitannya dikutip.

    Hinca mengatakan pemerintah bisa mengklarifikasi data-data itu jika memang dianggap keliru. Dia menegaskan, Mahfud tak perlu mengucap kata 'sampah'. "Terlebih dokumen tersebut berisikan nama-nama korban sipil yang meninggal. Pantaskah disebut sampah?" kata Hinca.

    Mahfud Md sebelumnya mengatakan pemerintah tak pernah secara resmi menerima data terkait jumlah tahanan politik dan korban tewas di Papua dari tim Veronica Koman. Mahfud, yang ikut dalam kunjungan Presiden Joko Widodo atau Jokowi di Canberra, Australia, mengatakan saat itu memang banyak orang yang ingin bersalaman dengan Presiden.

    Bahkan, ada beberapa orang yang menyerahkan surat atau amplop kepada Jokowi. Kalaupun data Veronica terbawa presiden, kata Mahfud, bisa saja surat itu belum dibuka. "Belum dibuka kali suratnya. Surat banyak. Rakyat biasa juga kirim surat ke presiden, jadi itu anu lah, kalau memang ada ya sampah saja lah," ujar Mahfud di Istana Bogor, Selasa, 11 Februari 2020.

    Dokumen itu memuat nama dan lokasi 57 tahanan politik Papua yang dikenai pasal makar, yang saat ini sedang ditahan di tujuh kota di Indonesia. Ada pula nama beserta umur dari 243 korban sipil yang telah meninggal selama operasi militer di Nduga sejak Desember 2018.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Polemik Aturan Ketenagakerjaan Dalam RUU Cipta Kerja

    Perubahan aturan ketenagakerjaan menurut pemerintah harus dilakukan agar mengundang investasi.