YLBHI Kecewa Mahfud MD Sebut Data Veronica Koman Hanya Sampah

Reporter:
Editor:

Ninis Chairunnisa

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan Mahfud MD di Hotel Shangli-Ra, Jakarta Selatan, pada Rabu, 22 Januari 2020. TEMPO/Andita Rahma

    Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan Mahfud MD di Hotel Shangli-Ra, Jakarta Selatan, pada Rabu, 22 Januari 2020. TEMPO/Andita Rahma

    TEMPO.CO, Jakarta - Ketua Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI) Asfinawati mengaku kecewa dengan pernyataan Menteri Koordinator bidang Politik, Hukum dan Keamanan Mahfud MD yang mengatakan data korban tewas dan tahanan politik Papua milik pengacara HAM Veronica Koman, hanya sampah.

    "Pernyataan ini bukan sikap seorang pelayan publik yang bertindak untuk kepentingan publik. Masak data orang meninggal diperlakukan seperti itu, sampah artinya akan dibuang," kata Asfi saat dihubungi Tempo pada Selasa malam, 11 Februari 2020.

    Asfi mengingatkan Mahfud bahwa jabatan menteri itu esensinya bukan hanya pembantu presiden, tapi juga pembantu rakyat yang harusnya bekerja agar harapan rakyat yang kesepakatannya ada di konstitusi itu tercapai. Pernyataan Mahfud ini, kata Asfi, semakin mempertegas bahwa pemerintahan menutup mata terhadap kasus-kasus pelanggaran HAM yang terjadi di Papua.

    "Mahfud ini juga menafsirkan tindakan Jokowi bahwa sebagai presiden dia tidak akan baca data dari rakyat, padahal kerjaannya setiap hari blusukan," ujar Asfinawati.

    Sebelumnya, Veronica Koman mengklaim Presiden Jokowi secara langsung telah memegang data nama tahanan dan korban tewas di Papua. Dia menyebut bahwa data tersebut diberikan kepada Jokowi yang tengah berkunjung ke Canberra, Australia pada Senin siang, 10 Februari 2020, waktu setempat.

    “Tim kami di Canberra telah berhasil menyerahkan dokumen-dokumen ini langsung kepada Presiden Jokowi. Dokumen ini memuat nama dan lokasi 57 tahanan politik Papua yang dikenakan pasal makar, yang saat ini sedang ditahan di tujuh kota di Indonesia," kata Veronica melalui siaran persnya.

    Menurut Mahfud yang ikut dalam kunjungan kerja presiden ke Australia tersebut, memang banyak orang yang berebut bersalaman, memberikan amplop atau surat dan sejenisnya ketika bertemu presiden. Kendati demikian, kata Mahfud, data dari Veronica itu tidak pernah diterima secara resmi.

    "Soal Koman itu, saya tahu surat seperti itu banyak. Orang berebutan salaman kagum kepada presiden, ada yang kasih map, amplop, surat gitu, jadi tidak ada urusan Koman atau bukan. Kita ndak tahu itu Koman apa bukan. Semua surat dibawa, kan surat banyak," ujar Mahfud saat ditemui di Kompleks Istana Bogor, Jawa Barat pada Selasa, 11 Februari 2020.

    Kalaupun surat Veronica Koman terbawa presiden, kata Mahfud, bisa saja surat itu belum dibuka apalagi dibaca. "Belum dibuka kali suratnya. Surat banyak.
    Rakyat biasa juga kirim surat ke presiden, jadi itu anu lah, kalau memang ada ya sampah saja lah itu," ujarnya.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Ashraf Sinclair dan Selebritas yang Kena Serangan Jantung

    Selain Ashraf Sinclair, ada beberapa tokoh dari dunia hiburan dan bersinggungan dengan olah raga juga meninggal dunia karena serangan jantung.