Rocky Gerung: Ngapain Menkes di Natuna, Dia Harusnya Bikin Policy

Reporter:
Editor:

Syailendra Persada

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Rocky Gerung. Instagram/@rockygerungofficial_

    Rocky Gerung. Instagram/@rockygerungofficial_

    TEMPO.CO, Jakarta - Akademikus, Rocky Gerung, mengkritik keputusan Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto yang berkantor di Natuna untuk memantau observasi WNI yang dievakuasi dari Cina.

    Menurut dia, yang seharusnya berada di Natuna untuk memantau observasi WNI yang dipulangkan dari Cina cukup pejabat selevel kepala satuan tugas.

    "Ngapain Menkes ada di Natuna, Menkes itu tugasnya membuat kebijakan, bagaimana kalau tiba-tiba ada pertemuan Menkes se-Asean dan dia harus hadir," katanya dalam acara peluncuran buku 'Kami Oposisi' di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa, 4 Februari 2020.

    Menurut Rocky Gerung, tidak tepat jika keberadaan Terawan di Natuna itu disebut sebagai contoh kehadiran negara. "Jadi kelihatannya penugasan itu pencitraan. Negara hadir itu dalam bentuk policy bukan manusianya," ucap dia.

    Ia meminta para oposisi pemerintah untuk mengkritik hal ini. "Ini oposisi mesti kritik bahwa itu berlebihan," tuturnya.

    Sebelumnya, Juru Bicara Istana Fadjroel Rachman mengatakan, Presiden Joko Widodo atau Jokowi memerintahkan Terawan untuk berkantor selama dua pekan ini di Natuna.

    "Jaminan perlindungan kesehatan yang sangat ketat dipantau secara langsung Menteri Kesehatan bersama tim yang diinstruksikan Presiden untuk berkantor di Natuna," katanya kemarin.

    Sebanyak 238 WNI bersama 42 tim penjemput telah tiba di Tanah Air dari Cina. Mereka menjalani transit observasi di Natuna selama 14 hari, baru kemudian bisa pulang dan bertemu keluarga masing-masing. Ratusan WNI ini dievakuasi karena virus Corona merebak di sana.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Virus Korona COVID-19 Hantam Ekonomi Indonesia pada Maret 2020

    Dampak Virus Korona terhadap perekonomian Indonesia dipengaruhi kondisi global yang makin lesu. Dunia dihantam coronavirus sejak Desember 2019.