Pengamat: Bobby dan Gibran Membuat NasDem Dilematis

Reporter:
Editor:

Endri Kurniawati

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Gibran Rakabuming Raka (kanan) didampingi pendukungnya mendaftarkan diri sebagai bakal calon Wali Kota Solo di Panti Marhaen, Kantor Dewan Perwakilan Daerah PDIP Jawa Tengah, Semarang, Kamis, 12 Desember 2019. Putra sulung Presiden Joko Widodo alias Jokowi berencana mengikuti untuk Pilkada Solo 2020. TEMPO/Jamal Abdun Nashr

    Gibran Rakabuming Raka (kanan) didampingi pendukungnya mendaftarkan diri sebagai bakal calon Wali Kota Solo di Panti Marhaen, Kantor Dewan Perwakilan Daerah PDIP Jawa Tengah, Semarang, Kamis, 12 Desember 2019. Putra sulung Presiden Joko Widodo alias Jokowi berencana mengikuti untuk Pilkada Solo 2020. TEMPO/Jamal Abdun Nashr

    TEMPO.CO, Jakarta - Pengamat politik asal Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah, Adi Prayitno, menilai NasDem menghadapi dilema apakah akan turun mengusung Gibran Rakabuming Raka, dan Bobby Nasution di Pilkada 2020. Ia menilai pernyataan Surya Paloh mengenai Bobby pun tidak tegas.

    Menurut dia, dinamika pilkada berbeda dengan koalisi nasional. Parpol koalisi kerap berbeda haluan. “Tapi soal Bobby dan Gibran, membuat semua parpol koalisi serba dilematis,” kata Adi saat dihubungi, Kamis 30 Januari 2020.

    Partai, ujar Adi, banyak yang menekankan pentingnya kaderisasi dalam memilih calon kepala daerah. Namun pada saat yang bersamaan Bobby dan Gibran adalah keluarga inti Presiden Jokowi. Sehingga banyak partai politik, termasuk NasDem belum menegaskan sikap politiknya hingga saat ini.

    Sebelumnya Ketua Umum NasDem Surya Paloh mengatakan rencana mencalonkan diri sebagai kepala daerah merupakan hak Gibran dan Bobby sebagai warga negara. "Itu hak Bobby, hak semua warga negara sepanjang hak politiknya enggak dicabut," kata Surya di kantor DPP NasDem, Jakarta Pusat, Rabu, 29 Januari 2020.

    Meski begitu, Surya tak mengungkapkan bagaimana peluang NasDem mengusung anak dan menantu Jokowi itu di Pilkada 2020. Yang pasti, Surya mengatakan Bobby sudah bertemu dia. Sedangkan Gibran belum.

    Menanggapi kritik dinasti politik yang dilontarkan ke Jokowi, Surya mengatakan undang-undang sebenarnya tak melarang hal itu. Soal dinasti politik ini bergantung kepada kepantasan. "Kalau dirasa itu pantas, patut, jalankan. Yang dibutuhkan kan asas kepantasan yang harus tetap terjaga," ujar Surya.

    Adi mengatakan “kepantasan” yang disebut oleh Surya Paloh tidak tegas. Hal ini memunculkan beberapa kesan kepada publik, Paloh meragukan kapasitas dan kompetensi anak dan menantu Jokowi itu di bidang politik. Kesan lain Paloh menilai mereka pantas maju karena didasarkan oleh keinginan sendiri, bukan desakan keluarga.

    Kesan lainnya, bisa jadi Paloh meragukan pengalaman kepemimpinan dari Bobby dan Gibran. “Menjadi pemimpin tentu tidak mudah, butuh kematangan yang tak bisa disulap dalam sekejap.”



     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Polemik Aturan Ketenagakerjaan Dalam RUU Cipta Kerja

    Perubahan aturan ketenagakerjaan menurut pemerintah harus dilakukan agar mengundang investasi.