DPRD Sultra Desak Pemegang Izin Tambang Periksa Pekerja Cina

Reporter:
Editor:

Endri Kurniawati

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Dokter mengambil sampel darah mahasiswi asal Aceh, Maulida (kanan) sesampainya dari kota Kaifeng, Cina saat menjalani pemeriksaan kesehatan di Rumah Sakit Zainal Abidin, Banda Aceh, Aceh, Rabu, 29 Januari 2020. Sebanyak empat mahasiswa asal Aceh baru saja pulang dari Cina. ANTARA/Ampelsa

    Dokter mengambil sampel darah mahasiswi asal Aceh, Maulida (kanan) sesampainya dari kota Kaifeng, Cina saat menjalani pemeriksaan kesehatan di Rumah Sakit Zainal Abidin, Banda Aceh, Aceh, Rabu, 29 Januari 2020. Sebanyak empat mahasiswa asal Aceh baru saja pulang dari Cina. ANTARA/Ampelsa

    TEMPO.CO, Kendari - DPRD Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra) mendesak seluruh pemegang Izin Usaha Pertambangan (IUP) khususnya nikel, segera memeriksakan kesehatan tenaga kerja asing (TKA) asal Cina untuk mencegah penyebaran virus corona. "Pemeriksaan kesehatan sejak dini bagi para pekerja WNA asal Cina ini penting untuk menghidari penyebaran virus di lokasi perusahaan tambang," ujar Sekretaris Komisi-IV DPRD Sultra Fajar Ishak, di Kendari, Kamis, 30 Januari 2020.

    Menurut Fajar, banyak masyarakat lokal yang sama-sama bekerja dengan WNA di perusahaan-perusahaan tambang. Hampir setiap hari WNA asal negara Cina baik yang bekerja di sejumlah perusahaan tambang nikel di wilayah Sultra maupun di Morowali Sulawesi Tengah (Sulteng), keluar-masuk melalui Bandara Haluoleo Kendari.

    Seharusnya, kata dia, saat ini Pemprov Sultra melalui Dinas Kesehatan sudah menyurati pemegang IUP untuk segera memeriksakan kesehatan para pekerja WNA-nya yang baru datang dalam kurun waktu Desember 2019 dan Januari 2020 ini. "Penyebaran virus corona sangat potensial (menyebar).”

    Politisi Hanura itu mengatakan desakan pemeriksaan kesehatan pekerja tambang asal Cina sesegera mungkin dilaksanakan untuk memastikan bahwa pekerja di sejumlah perusahaan tambang itu aman dari virus yang sangat membahayakan itu.

    DPRD Sultra juga meminta pemerintah segera memoratorium atau penghentian sementara masuknya pekerja asing asal Cina, hingga penyebaran virus Corona benar-benar steril.

    Kantor Kesehatan Pelabuhan (KKP) Bandara Haluoleo Kendari, memperketat pengawasan untuk memastikan setiap penumpang yang baru tiba di area bandara langsung termonitor alat pemindai panas tubuh di atas 38 celsius. Alat pendeteksi suhu tubuh bagi setiap penumpang itu sudah dipasang sejak beberapa bulan lalu di pintu kedatangan penumpang. Alat itu milik Kementerian Kesehatan RI.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Virus Korona COVID-19 Hantam Ekonomi Indonesia pada Maret 2020

    Dampak Virus Korona terhadap perekonomian Indonesia dipengaruhi kondisi global yang makin lesu. Dunia dihantam coronavirus sejak Desember 2019.