Bertemu Dubes Cina, Pimpinan MPR Bahas Virus Corona dan Natuna

Reporter:
Editor:

Syailendra Persada

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • TEMPO.CO, Jakarta - Wakil Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat Syarief Hasan menerima kunjungan Duta Besar Cina untuk Indonesia Xiao Qian di kantornya hari ini, Jumat, 24 Januari 2020. Dalam pertemuan itu, Syarief dan Xiao Qian membicarakan sejumlah isu seperti konflik di Natuna hingga penyebaran virus Corona.

    Ihwal konflik di Natuna, kata Syarif, Xiao Qian mengatakan bahwa mereka sudah menandatangani dan meratifikasi United Nation Convention on the Law of the Sea (UNCLOS) 1982. Namun, nelayan-nelayan Cina tetap suka mencari ikan di perairan Indonesia karena faktor cuaca.

    "Udara di bagian utara itu dingin, sehingga mereka tidak bisa mencari ikan di situ. Jadi mereka berpindah sehingga kadang-kadang masuk ke daerah situ," kata Syarief di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Jumat, 25 Januari 2020.

    Adapun soal virus Corona, kata Syarief, Dubes Cina menyampaikan bahwa penyebaran virus hanya terjadi di Kota Wuhan, Provinsi Hubei. Xiao Qian juga mengklaim bahwa daerah itu sudah dilokalisir dan situasi sejauh ini masih dapat dikontrol.

    Politikus Demokrat ini melanjutkan, Dubes Cina juga menjelaskan ihwal kondisi politik di Negeri Tirai Bambu itu. Xiao Qian mengklaim pemerintah Cina menjamin kebebasan beragama, termasuk sekitar 24 juta rakyat Cina beragama Muslim di sana.

    "Jadi beliau mengharapkan MPR itu bisa melihat faktanya nanti di sana bagaimana pemerintah Cina memberikan kebebasan kepada setiap warga negara untuk menjalankan agamanya masing-masing," ujar dia.

    Dubes Cina Xiao Qian mengatakan permasalahan di Natuna akan terus diselesaikan dengan diplomasi. Dia mengatakan Cina tak memperdebatkan kewenangan Indonesia atas perairan Natuna.

    "Dalam isu ini, kami punya pandangan sendiri, Indonesia juga punya pandangan sendiri. kami punya pandangan berbeda, dan ini tidak masalah," ujar Xiao Qian.

    Adapun soal virus Corona, dia mengatakan bahwa World Health Organization (WHO) sudah menggelar rapat darurat. Namun, WHO belum mengkategorikan penyebaran virus ini sebagai masalah global.

    "Kami masih dapat mengontrol warga di sana, jadi warga dari Wuhan tidak meninggalkan Wuhan, orang-orang dari daerah lainnya tidak pergi ke Wuhan," ujar dia.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    GERD Memang Tak Membunuhmu tapi Dampaknya Bikin Sengsara

    Walau tak mematikan, Gastroesophageal reflux disease alias GERD menyebabkan berbagai kesengsaraan.