Stunting di Bantul Dipicu juga Pernikahan Dini

Reporter:
Editor:

Jobpie Sugiharto

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi stunting atau gizi buruk. Shutterstock

    Ilustrasi stunting atau gizi buruk. Shutterstock

    TEMPO.CO, Yogyakarta - Di Desa Muntuk, Kecamatan Dlingo, Kabupaten Bantul, masih banyak terjadi kasus stunting. Penyebabnya, selain asupan gizi yang kurang, juga pengetahuan orang tua soal gizi yang kurang akibat pernikahan dini.

    Kelik Subagyo, Kepala Desa Muntuk, mengatakan terjadinya kasus stunting di desanya berawal dari banyaknya pernikahan dini.

    Menurut dia, pengurus desa sering memberi pengertian soal usia pernikahan yang ideal. Faktanya, di Desa Muntuk dan sekitarnya, masih ada warga yang menikah selepas lulus sekolah menengah pertama.

    "Kami bersinergi dengan pemerintah, tenaga ahli kesehatan, dan swasta untuk menangani kasus stunting," ujar Kelik pada Jumat, 24 Januari 2020.

    Kabupaten Bantul, Provinsi Yogyakarta, adalah satu dari 60 kabupaten/kota prioritas stunting di Indonesia.

    Stunting adalah kondisi gagal tumbuh pada anak akibat kekurangan gizi kronis dan infeksi berulang pada 1.000 hari pertama kehidupan anak (usia emas), yaitu sejak janin hingga usia anak 2 tahun.

    Gagal tumbuh yang dimaksud adalah pada tubuh dan otak anak.

    Kelik pun minta masyarakat lebih sadar terkait gizi bagi anak-anak, kesadaran pola hidup, dan pengetahuan tentang stunting. Pengurus desa sudah sering dilakukan sosialisasi tentang gizi bagi ibu hamil dan anak-anak dan usia pernikahan yang ideal.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Ashraf Sinclair dan Selebritas yang Kena Serangan Jantung

    Selain Ashraf Sinclair, ada beberapa tokoh dari dunia hiburan dan bersinggungan dengan olah raga juga meninggal dunia karena serangan jantung.