Pelajar Bunuh Begal Dihukum Pembinaan Satu Tahun di LKSA

Reporter:
Editor:

Ninis Chairunnisa

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi begal motor. TEMPO/Gunawan Wicaksono

    Ilustrasi begal motor. TEMPO/Gunawan Wicaksono

    TEMPO.CO, Jakarta - Hakim anak Nuny Defiary menjatuhkan hukuman pembinaan selama setahun kepada ZA, 17 tahun, terdakwa pembunuhan begal. Persidangan itu dilangsungkan selama 55 menit mulai pukul 10.25 WIB di ruang sidang Tirta khusus anak Pengadilan Negeri Kepanjen, Kabupaten Malang.

    "Mengadili menyatakan anak terbukti secara sah melakukan penganiayaan yang menyebabkan meninggal. Sesuai dakwaan subsider, menjatuhkan pidana kepada anak dengan pembinaan dalam lembaga LKSA Darum Aitam di selama satu tahun," kata Nuny, Kamis, 23 Januari 2020.

    Vonis tersebut sesuai dengan tuntutan Jaksa Penuntut Umum. Nuny juga memerintahkan Balai Pemasyarakatan Malang untuk mendampingi dan membimbing ZA selama masa pembinaan serta melaporkan perkembangan kepada jaksa.

    Dalam pertimbangannya, Nuny mengatakan ha yang meringankan adalah terdakwa memiliki potensi dan bakat untuk masa depan serta diterima di lingkungan sekolah dan teman sekolah. "Hukuman ini bertujuan bukan untuk memberi balasan atas perbuatannya, tetapi agar anak memahami kesalahannya," kata dia.

    Menurut Nuny, putusan tersebut cukup pantas dan sesuai dengan perbuatan yang dilakukan.

    ZA menjalani penahanan kota sejak perkara kasus pembunuhan begal terjadi pada 8 September 2019. ZA bersama teman perempuannya dibegal di jalan sepi area perkebunan tebu di Gondanglegi, Kabupaten Malang.

    Dalam dakwaan, ZA disangka menikam salah satu dari empat orang begal yang akan memperkosa teman perempuannya. ZA didakwa pasal berlapis meliputi pembunuhan berencana dan kepemilikan senjata tajam.

    Kuasa hukum ZA, Bhakti Riza Hidayat menyatakan pihaknya menyatakan pikir-pikir untuk menerima atau banding ke Pengadilan Tinggi Jawa Timur atas putusan hakim tersebut. Ada tempo selama tujuh hari untuk memutuskannya.

    "Berbagai pertimbangan tim hukum dan orang tua, kami tak menerima atau menolak. Pikir-pikir," kata Bhakti.

    Bhakti menjelaskan jaksa mendakwa ZA dengan empat pasal. Namun dakwaan primer Pasal 340 KUHP tentang pembunuhan berencana subsider pasal 338 tentang pembunuhan dan membawa senjata tajam tak bisa dibuktikan.

    Hakim memutuskan terdakwa kasus begal itu dikenakan Pasal 351 ayat 3 KUHP tentang penganiayaan yang menyebabkan kematian. Hakim tak mempertimbangkan pasal 49 ayat 1 dan ayat 2 tentang pembelaan darurat, yakni unsur pembenar dan pemaaf menjadi dasar pertimbangan. "Anak ZA mengakui terjadi penikaman, kenapa proses itu terjadi? Karena ada ancaman pemerkosaan, ada ancaman harta dirampas," ujar Bhakti.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    GERD Memang Tak Membunuhmu tapi Dampaknya Bikin Sengsara

    Walau tak mematikan, Gastroesophageal reflux disease alias GERD menyebabkan berbagai kesengsaraan.