Cerita Saksi yang Melihat Harun Masiku Sudah Pulang ke Indonesia

Reporter:
Editor:

Syailendra Persada

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Uang dolar Singapura dan buku tabungan sebagai barang bukti OTT Komisioner KPU RI, di gedung KPK, Jakarta, Kamis, 9 Januari 2020. Empat orang tersangka tersebut yaitu: Komisioner Komisi Pemilihan Umum RI, Wahyu Setiawan, mantan anggota Badan Pengawas Pemilu, Agustiani Tio Fridelina dan pemberi suap Harun Masiku dan Saeful. TEMPO/Imam Sukamto

    Uang dolar Singapura dan buku tabungan sebagai barang bukti OTT Komisioner KPU RI, di gedung KPK, Jakarta, Kamis, 9 Januari 2020. Empat orang tersangka tersebut yaitu: Komisioner Komisi Pemilihan Umum RI, Wahyu Setiawan, mantan anggota Badan Pengawas Pemilu, Agustiani Tio Fridelina dan pemberi suap Harun Masiku dan Saeful. TEMPO/Imam Sukamto

    TEMPO.CO, JakartaCalon Legislatif atau Caleg PDIP Harun Masiku diduga sudah berada di Indonesia ketika Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menggelar rangkaian operasi tangkap tangan (OTT) yang menyeret mantan Komisioner KPU Wahyu Setiawan.

    Seperti dikutip dari Koran Tempo edisi Sabtu, 18 Januari 2020, penelusuran terhadap sejumlah dokumen dan sumber membantah keterangan pemerintah dan KPK yang menyebut Harun masih ada di luar negeri.

    "Pokoknya belum di Indonesia," kata Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia yang juga politikus PDIP Yasonna Laoly tentang keberadaan Harun, Kamis, 16 Januari 2020.

    Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi Firli Bahuri menyatakan lembaganya telah membuat surat permintaan bantuan ke polisi untuk mencari Harun. "Mereka punya jejaring, kami minta bantuan untuk menemukan keberadaan tersangka," kata dia di kantornya, Jumat, 17 Januari 2020.

    Firli yakin Harun, yang kini berada di luar negeri, akan pulang ke Indonesia. Menurut dia, tersangka korupsi punya ciri khas yang membedakan dengan tersangka kasus pidana lain, seperti pembunuhan atau terorisme. "Saya kan pernah jadi Deputi Penindakan KPK, ada yang kabur ke luar negeri itu pasti kembali," ucapnya.

    Masih dikutip dari Koran Tempo, Harun memang meninggalkan Jakarta menuju Singapura pada 6 Januari-sama dengan versi pemerintah dan komisi antikorupsi. Harun terbang menggunakan pesawat Garuda Indonesia dengan nomor penerbangan GA 832 dari Bandar Udara Soekarno-Hatta menuju Changi, Singapura. Tapi, berbeda dengan keterangan Yasonna dan anak buahnya, Harun tercatat dan terlihat kembali ke Jakarta esok harinya.

    Seperti ditulis Koran Tempo edisi Kamis, 16 Januari 2020, Harun terbang dari Singapura menumpang pesawat Batik Air dengan nomor penerbangan ID 7156. Pesawat dengan nomor registrasi PK-LAW ini terbang pada pukul 16.35 waktu setempat dari Gate A16 Bandara Changi, dengan mengangkut 118 penumpang.

    Ada tiga penumpang yang menempati kelas bisnis-atau di penerbangan Batik Air disebut "C Class"-termasuk Harun Masiku. Ia duduk di kursi nomor 3C. Dua penumpang lainnya di kelas itu duduk di kursi nomor 2A dan 2D.

    Pesawat yang membawa Harun mendarat di Cengkareng pada pukul 17.03 WIB. Para penumpang turun dari pesawat melalui Terminal 2F. Menurut keterangan beberapa saksi mata, karena duduk di kelas bisnis, Harun melenggang cepat meninggalkan pesawat, tujuh menit kemudian.

    Harun mengenakan kaus lengan panjang biru tua, celana hitam, serta sepatu sport yang juga berwarna hitam. Ia terlihat menenteng tas ukuran laptop dan tas plastik belanja, kemungkinan besar hasil belanjaan di bandara.

    Beberapa belas menit kemudian, ia dihampiri seorang pria berpakaian Bea-Cukai. Menurut seorang yang melihat, lelaki yang perawakannya lebih pendek daripada Harun ini menemaninya melintasi pos pemeriksaan Imigrasi Bandara.

    Sejumlah sumber pun menceritakan gerak-gerik Harun di Bandara. Baca berita selengkapnya di Koran Tempo: Lenggang Penumpang Kursi Nomor 3C


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Ashraf Sinclair dan Selebritas yang Kena Serangan Jantung

    Selain Ashraf Sinclair, ada beberapa tokoh dari dunia hiburan dan bersinggungan dengan olah raga juga meninggal dunia karena serangan jantung.