Jokowi Soal Keraton Agung Sejagat: Itu Hiburan Lah

Reporter:
Editor:

Syailendra Persada

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Sejumlah pengunjung menyaksikan batu prasasti di komplek Keraton Agung Sejagat Desa Pogung Jurutengah, Bayan, Purworejo, Jawa Tengah, Selasa, 14 Januari 2020. Kemunculan Keraton Agung Sejagat meresahkan masyarakat sekitar setelah ratusan pengikutnya mengadakan acara Wilujengan dan Kirab Budaya, yang dilaksanakan dari Ahad, 12 Januari 2020. ANTARA/Anis Efizudin

    Sejumlah pengunjung menyaksikan batu prasasti di komplek Keraton Agung Sejagat Desa Pogung Jurutengah, Bayan, Purworejo, Jawa Tengah, Selasa, 14 Januari 2020. Kemunculan Keraton Agung Sejagat meresahkan masyarakat sekitar setelah ratusan pengikutnya mengadakan acara Wilujengan dan Kirab Budaya, yang dilaksanakan dari Ahad, 12 Januari 2020. ANTARA/Anis Efizudin

    TEMPO.CO, Jakarta - Presiden Joko Widodo atau Jokowi ikut berkomentar soal keberadaan Keraton Agung Sejagat di Purworejo, Jawa Tengah.

    Ia menganggap peristiwa itu sekadar hiburan. "Itu hiburan, lah," katanya sambil sedikit tertawa kala berdialog dengan wartawan di Istana Merdeka, Jakarta, Jumat, 17 Januari 2020.

    Sebelumnya, Wakil Presiden Ma'ruf Amin menilai keraton ini seperti khilafah karena melampaui batas negara. Ia juga heran terhadap munculnya fenomena ini. "Kenapa ya banyak orang ingin jadi raja? Saya kira banyak orang 'sakit'," kata dia di rumah dinasnya.

    Keraton Agung Sejagat di Purworejo ini dipimpin Sinuhun yang bernama asli Totok Santosa Hadiningrat dan istrinya, Fanni Aminadia, yang dipanggil Kanjeng Ratu Dyah Gitarja. Pengikut Keraton Agung Sejagat ini mencapai sekitar 450 orang. Penasihat Keraton Agung Sejagad, Resi Joyodiningrat, menegaskan Keraton Agung Sejagat bukan aliran sesat seperti yang dikhawatirkan masyarakat.

    Joyodiningrat mengklaim Keraton Agung Sejagad merupakan kerajaan atau kekaisaran dunia yang muncul karena telah berakhir perjanjian 500 tahun yang lalu, terhitung sejak hilangnya Kemaharajaan Nusantara, yaitu imperium Majapahit pada 1518 sampai 2018.

    Menurut dia, perjanjian 500 tahun dilakukan Dyah Ranawijaya sebagai penguasa imperium Majapahit dengan Portugis sebagai wakil orang Barat sehingga wilayah itu merupakan bekas koloni Kekaisaran Romawi di Malaka pada 1518.

    Dengan berakhirnya perjanjian itu, kata Jodiningrat, maka berakhir pula dominasi kekuasaan Barat mengendalikan dunia yang didominasi Amerika Serikat setelah Perang Dunia II dan kekuasaan tertinggi harus dikembalikan ke pemiliknya, yaitu Keraton Agung Sejagad sebagai penerus Medang Majapahit yang merupakan Dinasti Sanjaya dan Dinasti Syailendra.

    Pada Selasa, 14 Januari 2020, Polda Jawa Tengah menangkap 'raja dan ratu' keraton itu atas tuduhan penipuan. Sebab, mereka meminta sejumlah uang kepada orang-orang yang hendak bergabung dengan imbalan dijanjikan terhindar dari malapetaka dan mendapat gaji besar sebagai pengikut.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Virus Korona Wuhan Menjangkiti Kapal Pesiar Diamond Princess

    Jumlah orang yang terinfeksi virus korona Wuhan sampai Minggu, 16 Februari 2020 mencapai 71.226 orang. Termasuk di kapal pesiar Diamond Princess.