Risma Dirisak soal Banjir, PDIP: Surabaya Lebih Baik dari Jakarta

Reporter:
Editor:

Syailendra Persada

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Wali kota Surabaya, Tri Rismaharani memberikan keterangan kepada wartawan terkait kebijakan yang dikeluarkan di tahun 2013 di ruang kerjanya di Balai Kota Surabaya, Jawa Timur (31/12). TEMPO/Aris Novia Hidayat

    Wali kota Surabaya, Tri Rismaharani memberikan keterangan kepada wartawan terkait kebijakan yang dikeluarkan di tahun 2013 di ruang kerjanya di Balai Kota Surabaya, Jawa Timur (31/12). TEMPO/Aris Novia Hidayat

    TEMPO.CO, Jakarta - Sekretaris PDI Perjuangan (PDIP) Kota Surabaya, Baktiono, mengatakan penanganan banjir di Surabaya oleh Wali Kota Tri Rismaharani atau Risma lebih sigap ketimbang Jakarta. Sebab, saat sejumlah kawasan tergenang air akibat hujan deras yang turun selama dua jam pada Rabu, 15 Januari 2020, pompa penyedot air langsung dioperasikan.

    Sehingga, kata anggota Komisi C DPRD Surabaya ini, genangan air dapat segera surut. Genangan dipompa ke sungai sekunder, lalu diteruskan ke sungai primer  untuk didorong ke laut. “Tidak sampai dua jam air sudah surut karena pompa beroperasi semua. Bandingkan dengan Jakarta dari 250 pompa hanya 50 yang aktif ketika ada banjir besar,” kata Baktiono, Kamis, 16 Januari 2020.

    Menurut Baktiono, netizen yang merisak Tri Rismaharini tidak jernih dalam melihat kerja keras wali kota perempuan pertama di Surabaya itu. Sebab, kata dia, dibandingkan sepuluh tahun lalu,  banjir di Surabaya sudah relatif  jauh berkurang. “Saya kira bully di media sosial lebih karena faktor politis saja, dan itu sudah biasa,” ujar Baktiono.

    Baktiono mengatakan permasalahan banjir di Surabaya tinggal dua, yakni di Jalan Mayjen Sungkono dan Sidotopo Wetan. Penyebabnya karena proyek box culvert di dua tempat  belum beres. Di Jalan Mayjen Sungkono, proyek box culvert terhenti karena tertimpa dinding sebuah hotel.

    Padahal, proyek box culvert di jalan dengan kontur tanah cekung itu penting untuk mengurai banjir yang acap menenggelamkan wilayah tersebut dari tahun ke tahun.  “Proyek di sana macet lantaran di-police line, sebenarnya DPRD sudah merekomendasikan agar segera dilanjutkan,” kata dia.

    Adapun di Sidotopo Wetan, ujar Baktiono, problemnya karena proyek box culvert tak diteruskan. DPRD, kata dia, sudah mendesak eksekutif agar pembangunan saluran tersebut cepat diselesaikan. “Karena kalau box culvert di Sidotopo Wetan mampat, seluruh Surabaya utara banjir,” katanya.

    Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Pematusan Kota Surabaya Erna Purnawati mengatakan Wali Kota Risma sangat perhatian terhadap masalah  banjir. Selain membangun 59 rumah pompa (untuk 200-an pompa), Risma juga membeli 111 genset untuk menopang  bila listrik mati saat banjir tiba. “Pompa-pompa yang sudah tak maksimal langsung diganti,” katanya.

    Dosen Teknik Lingkungan Institut Teknologi Sepuluh Nopember, Eddy Sudjono, melihat banjir pada Rabu kemarin terjadi di ‘titik lemah’ Surabaya, yakni di Mayjen Sungkono. Video mobil teredam hingga separuh bodi maupun sepeda motor yang tinggal kelihatan spionnya pun diviralkan. “Sebenarnya curah hujannya tak terlalu besar, tapi celakanya kok pas di Mayjen Sungkono, yang dari tahun ke tahun pasti tenggelam,” katanya.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Portofolio Saham Asabri Melorot 2013-2017

    PT Asabri mengalami kerugian akibat gegabah mengelola investasi. Badan Pemeriksa Keuangan dan Ombudsman Republik Indonesia curiga ada penyelewengan.