DPR Kritik Ketua KY yang Promosikan Salah Satu Calon Hakim Agung

Reporter:
Editor:

Ninis Chairunnisa

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Wakil Ketua Komisi Hukum DPR RI, Desmond J. Mahesa saat ditemui di Kompleks Parlemen, Senayan pada Senin, 13 Januari 2020. TEMPO/Dewi Nurita

    Wakil Ketua Komisi Hukum DPR RI, Desmond J. Mahesa saat ditemui di Kompleks Parlemen, Senayan pada Senin, 13 Januari 2020. TEMPO/Dewi Nurita

    TEMPO.CO, Jakarta - Wakil Ketua DPR Desmond J. Mahesa mengkritik Ketua Komisi Yudisial (KY) Jaja Ahmad Jayus yang dinilai mempromosikan hakim tinggi di Pengadilan Tinggi Banjarmasin, Soesilo sebagai calon hakim agung, saat rapat bersama dengan Komisi III DPR RI di Kompleks Parlemen, Senayan hari ini.

    "Saya sedikit tersentak tadi melihat Ketua KY mempromosikan orang? Kok KY mempromosikan orang? Satu-satu lagi. Disampaikan kemampuan Soesilo di atas rata-rata. Rata-rata apa? Kemampuan intelektual atau segalanya? Atau ini bagian dari penggiringan?," ujar Desmond di Kompleks Parlemen, Senayan pada Rabu, 15 Januari 2020.

    Menurut Desmond, cara Ketua KY mempromosikan Soesilo, tidak sepatutnya dilakukan. Toh, kata dia, hakim agung yang selama ini direkomendasikan KY, kerap kali gagap dan semakin jauh dari rasa keadilan serta kepastian hukum. "Jadi, kenapa Ketua KY itu melihat sosok Soesilo berlebihan? Ada apa?," ujar politikus Gerindra ini.

    Sejauh ini, ada enam nama calon hakim agung yang diserahkan KY ke DPR. Mereka adalah Hakim Tinggi Pengadilan Tinggi Banjarmasin, Soesilo; Hakim Tinggi Pengadilan Tinggi Denpasar, Dwi Sugiarto; Panitera Muda Perdata Khusus pada Mahkamah Agung, Rahmi Mulyati; Ketua Pengadilan Tinggi Agama Kupang, Busra; Hakim Militer Utama Dilmiltama, Brigjen TNI Sugeng Sutrisno; serta Wakil Ketua III Pengadilan Pajak bidang Pembinaan dan Pengawasan Kinerja Hakim, Sartono.

    Saat rapat konsultasi KY dengan DPR pada hari ini, Ketua KY Jaja Ahmad Jayus menjelaskan bahwa nama-nama itu dipilih setelah melalui berbagai rangkaian proses seleksi yang dinilai berdasarkan kepribadian, latar belakang dan kompetensi calon. Ia kemudian mencontohkan sosok Soesilo, yang dinilainya memiliki kompetensi sebagai hakim agung dan kemudian disodorkan ke DPR untuk melewati proses fit and proper test di DPR.

    "Sebagai contoh, untuk kamar pidana, saudara Soesilo berlatar belakang hakim, dua kali menjabat wakil ketua PN, empat kali ketua PN, dan dikenal sebagai sosok berintegritas tinggi dan bertanggungjawab," ujar Jaja.

    Dilihat dari sisi kompetensi, kata Jaja, Soesilo juga dinilai berada di atas standar rata-rata komptensi hakim agung. "Sisi kepribadiannya menonjol, perilaku kerja sesuai aturan yang berlaku," ujarnya

    Namun Jaja hanya membacakan penilaian KY atas Soesilo dan tidak memaparkan kompetensi lima calon hakim agung lainnya. "Saya tidak membaca seluruhnya, yang lain bisa dilihat dari paparan tertulis," kata dia.

    Sikap Jaja ini kemudian dianggap oleh anggota Komisi III DPR sebagai bentuk mempromosikan salah satu calon hakim agung. Sikap itu dikritik keras oleh Desmond dan beberapa anggota DPR lainnya. "Jangan KY merasa yang kalian luluskan itu sudah beres," ujar Desmond.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Sebab dan Pencegahan Kasus Antraks Merebak Kembali di Gunungkidul

    Kasus antraks kembali terjadi di Kabupaten Gunungkidul, DI Yogyakarta. Mengapa antraks kembali menjangkiti sapi ternak di dataran tinggi tersebut?