PBNU Soal Ornamen Cina Dibongkar: Budaya Kita dengan Cina Menyatu

Reporter:
Editor:

Syailendra Persada

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Warga berfoto di Taman Ditan yang dihiasi ornamen bernuansa merah, kuning, dan emas saat perayaan Tahun Baru Imlek 2570 di Beijing, Cina, Selasa, 5 Februari 2019. REUTERS

    Warga berfoto di Taman Ditan yang dihiasi ornamen bernuansa merah, kuning, dan emas saat perayaan Tahun Baru Imlek 2570 di Beijing, Cina, Selasa, 5 Februari 2019. REUTERS

    TEMPO.CO, Pangkalpinang - Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Said Aqil Siradj  menyindir pernyataan politikus Partai Persatuan Pembangunan (PPP), Amri Cahyadi. Wakil Ketua DPRD Bangka Belitung ini meminta ornamen dan simbol Cina di Bangka Belitung dibongkar.

    "Tidak bisa begitu. Hubungan kita orang Nusantara dengan Cina tidak bisa dipisahkan. Sudah ribuan tahun. Bahkan bahasa Cina sudah jadi bahasa kita seperti baso, tahu, sate, becak. Itu bahasa Cina. Sekarang tinggal bagaimana saling menghormati," ujar Said Aqil kepada wartawan usai melantik Pengurus NU Bangka Belitung di Pondok Pesantren Hidayatussalikin Pangkalpinang, Selasa, 14 Januari 2020.

    Said Aqil menuturkan dalam sejarah Indonesia banyak raja, tokoh hingga ulama yang memiliki garis keturunan dari Cina.

    "Ada Wali Songo keturunan cina. Raden Fatah raja muslim pertama di Jawa, ibunya Cina. Syekh Quro yang mengajar Islam di Jawa barat itu orang cina. Gus Dur juga dari sisi ibunya keturunan Tan Kim Han," ujar dia.

    Menurut Said Aqil, tidak benar menilai sesuatu berdasarkan suku dan agama seseorang. Yang paling benar, kata dia, adalah menempatkan kebenaran diatasi segalanya.

    "Kalau kotor walaupun dia Indonesia asli atau Islam, tetap musuh kita. Koruptor hanya karena dia pribumi asli dan Islam apa harus dibela? Begitu juga dengan narkoba, penjudi, perampok, pemerkosa. Yang orang Cina tidak korupsi, apa itu musuh kita? Jadi jangan karena Cinanya. Tapi prilakunya," ujar dia.

    Amri Cahyadi meminta ornamen dan simbol Cina dibongkar. "Saya pribadi dan partai bukan anti Cina. Dalam konteks negara, suku Tionghoa yang sudah menjadi WNI adalah saudara dan itu final. Terkait pernyataan itu,saya melihat sudah dipolitisasi dan keluar dari substansi yang saya maksud," ujar dia.

    Amri mengatakan pernyataan itu bukan dalam konteks kesukuan atau toleransi. Namun, kata dia, terkait banyaknya kemunculan ornamen dan simbol budaya Cina beberapa tahun ini di lokasi wisata yang ada di Bangka Belitung.

     


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Sebab dan Pencegahan Kasus Antraks Merebak Kembali di Gunungkidul

    Kasus antraks kembali terjadi di Kabupaten Gunungkidul, DI Yogyakarta. Mengapa antraks kembali menjangkiti sapi ternak di dataran tinggi tersebut?