Uni Eropa Kampanye Negatif Sawit, Jokowi: Perang Bisnis

Reporter:
Editor:

Amirullah

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Presiden Jokowi memberikan sambutan disaksikan Ketua Dewan Pengarah Badan Pembinaan Ideologi Pancasila ( BPIP) Megawati Soekarnoputri saat Presidential Lecture Internalisasi dan Pembumian Pancasila di Istana Negara, Jakarta, Selasa, 3 Desember 2019. TEMPO/Subekti

    Presiden Jokowi memberikan sambutan disaksikan Ketua Dewan Pengarah Badan Pembinaan Ideologi Pancasila ( BPIP) Megawati Soekarnoputri saat Presidential Lecture Internalisasi dan Pembumian Pancasila di Istana Negara, Jakarta, Selasa, 3 Desember 2019. TEMPO/Subekti

    TEMPO.CO, Jakarta - Presiden Joko Widodo atau Jokowi menuding Uni Eropa sengaja memunculkan isu sawit tidak ramah lingkungan karena faktor perang bisnis. Pasalnya harga minyak sawit Indonesia lebih bersaing dibandingkan minyak bunga matahari yang mereka produksi.

    "Sebetulnya apa sih mereka ngomong begitu, karena sawit ini bisa lebih murah dari minyak bunga matahari mereka. Ini hanya perang bisnis antarnegara tapi dipakai alasan terus," kata Jokowi saat membuka Rapat Kerja Nasional Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan di JIExpo, Jakarta, Jumat, 10 Januari 2020.

    Menurut Jokowi, tidak masalah jika Uni Eropa memboikot sawit Indonesia. Minyak sawit, kata dia, akan dijadikan bahan Bio Solar seperti B20, B30, B50 dan nanti B100.

    "Kamu enggak beli CPO kita tidak apa-apa. Karena kita telah menjadikan minyak sawit kita menjadi B20 dan tahun ini B30. Ya, kita pakai sendiri saja," ucap dia.

    Jokowi berujar Indonesia jangan lagi mengekspor barang mentah namun diolah terlebih dahulu menjadi barang setengah jadi atau barang jadi. "Ini yang telah kita lakukan. Karena kalau tidak kita selalu dimainkan pasar," tuturnya.

    Mantan gubernur DKI Jakarta itu menjelaskan dengan mengubah sawit menjadi B30, Indonesia menghemat sekitar Rp 110 triliun. "Nantinya kalau sampai kepada B50 yang jelas lebih Rp 200 triliun," katanya.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Sebab dan Pencegahan Kasus Antraks Merebak Kembali di Gunungkidul

    Kasus antraks kembali terjadi di Kabupaten Gunungkidul, DI Yogyakarta. Mengapa antraks kembali menjangkiti sapi ternak di dataran tinggi tersebut?