Kasus Suap Komisioner KPU Seret PDIP dan Kedekatan Megawati-Firli

Reporter:
Editor:

Endri Kurniawati

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi Firli Bahuri saat menyambangi Kejaksaan Agung, Jakarta, Rabu, 8 Januari 2020. M Rosseno Aji

    Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi Firli Bahuri saat menyambangi Kejaksaan Agung, Jakarta, Rabu, 8 Januari 2020. M Rosseno Aji

    TEMPO.CO, Jakarta - Caleg Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP), Harun Masiku menjadi tersangka pemberi suap kepada Komisioner KPU Wahyu Setiawan untuk urusan penetapan anggota DPR terpilih 2019-2024. Nama Sekretaris Jenderal PDIP Hasto Kristiyanto disebut-sebut terseret kasus suap Komisioner KPU Wahyu Setiawan setelah dua stafnya diduga ditangkap dalam operasi tangkap tangan Komisi Pemberantasan Korupsi (OTT KPK) pada Rabu, 8 Januari 2020. 

    KPK membuka kemungkinan memanggil Hasto dalam penyidikan ini.  "Mungkin tidak saja hanya kepada Hasto tetapi mungkin kepada pihak-pihak terkait yang berhubungan dengan pengembangan perkara ini," kata Wakil Ketua KPK Lili Pintauli Siregar, di kantornya, Jakarta, Kamis, 9 Januari 2020.

    Kasus ini merupakan OTT kedua sejak kepemimpinan Firli Bahuri meski menurut ICW, penangkapan itu tak ada kaitannya dengan kepemimpinan Firli.

    Mantan Direktur Penindakan KPK ini diketahui memiliki jejak kedekatan dengan Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri. Mereka diketahui pernah bertemu di Hotel Fairmont, Senayan, Jakarta, pada 1 November 2018. Saat itu, Firli masih menjabat Deputi Penindakan KPK.

    Firli terlihat mencium tangan Megawati. Firli mengakui adanya pertemuan tersebut. Pertemuan itu, kata dia, terjadi secara tak sengaja saat ia diundang oleh Wakil Kepala Badan Reserse Kriminal Markas Besar Kepolisian Republik Indonesia Inspektur Jenderal Antam Novambar.

    “Saya bertemu dengan Pak Antam. Betul, di situ ada Bu Megawati," kata Firli setelah menjalani uji kelayakan dan kepatutan calon pemimpin KPK periode 2019-2023 di Dewan Perwakilan Rakyat pada Kamis malam, 12 September lalu.

    Firli mengklaim dia diundang Antam untuk membicarakan koordinasi tentang penanganan perkara. Kepala Kepolisian Daerah Sumatera Selatan ini mengakui mereka makan malam bersama. Meski begitu, Firli membantah membicarakan perkara yang sedang ditangani KPK. "Penanganan perkara kan ada koordinasi supervisi. Jadi tidak ada kaitan perkara yang ditangani oleh KPK, tidak ada," kata dia mengklaim.

    Firli tertawa saat ditanya apakah persamuhan itu membicarakan pencalonannya dan Antam sebagai kandidat pimpinan KPK. Dia mengklaim, pencalonannya bukan atas permintaan siapa pun. "Endak, saya tidak ingin bicara itu. Yang pasti saya daftar pimpinan KPK murni keinginan saya pribadi. Saya tidak dipaksa oleh orang lain," kata dia.

    Pertemuan Firli dengan pimpinan partai politik ini menjadi catatan merah dalam rekam jejaknya sebagai calon pimpinan KPK. Meski disorot dengan sejumlah catatan, Firli tetap lolos menjadi Komisioner KPK, bahkan dipilih menjadi Ketua KPK.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Lika-Liku Calon Wakil Gubernur DKI Jakarta Pengganti Sandiaga Uno

    Kursi Wakil Gubernur DKI Jakarta kosong sejak Agustus 2018. Pada Januari 2020, Partai Keadilan Sejahtera dan Partai Gerindra mengajukan dua nama.