Kisah Bupati Sidoarjo Saiful Ilah dan Lumpur Lapindo

Reporter:
Editor:

Jobpie Sugiharto

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Seorang ibu bersama anaknya korban lumpur Lapindo menunjuk pusat semburan dari titik 25 tanggul penahan lumpur Lapindo di Porong, Sidoarjo, Jawa Timur, 29 Mei 2018. Walhi menggelar aksi untuk memperingati 12 tahun tragedi semburan lumpur Sidoarjo. ANTARA/Zabur Karuru

    Seorang ibu bersama anaknya korban lumpur Lapindo menunjuk pusat semburan dari titik 25 tanggul penahan lumpur Lapindo di Porong, Sidoarjo, Jawa Timur, 29 Mei 2018. Walhi menggelar aksi untuk memperingati 12 tahun tragedi semburan lumpur Sidoarjo. ANTARA/Zabur Karuru

    TEMPO.CO, Jakarta - Bupati Sidoarjo, Jawa Timur, Saiful Ilah yang ditangkap KPK tadi malam, Selasa, 7 Januari 2020 di pendopo kabupaten ternyata mempunyai kaitan dengan lumpur Lapindo.

    Ketua PKB Sidoarjo tersebut diduga terima suap proyek pengadaan barang dan jasa.

    “KPK telah mengamankan seorang kepala daerah dan beberapa pihak lainnya di Kabupaten Sidoarjo Jawa Timur, terkait pengadaan barang dan jasa,” ujar Ketua KPK Firli Bahuri lewat keterangan tertulisnya setelah penangkapan.

    Kembali ke soal lumpur Lapindo, seperti apa posisi Bupati Sidoarjo Saiful Ilah?

    Dia menjabat bupati dua periode, yakni 2010-2015 dan 2015-2020.

    Bupati Saiful Ilah yang memberi izin lingkungan kepada perusahaan eksplorasi minyak dan gas Lapindo Brantas Inc untuk mengebor beberapa sumur di Desa Kedungbanteng, Kecamatan Tanggulangin.

    Desa Kedungbanteng terkenal dengan kekayaan kandungan minyak dan gas.

    Izin pengeboran sumur untuk perusahaan milik Grup Bakrie tersebut tetap dibuka meski ditolak warga.

    Warga menolak dengan alasan trauma kejadian semburan lumpur panas di Porong, tak jauh dari desa mereka.

    Semburan lumpur yang menenggelamkan sejumlah desa itu dikenal dengan kasus lumpur Lapindo, yang juga ditangani Lapindo Brantas.

    Meski begitu Bupati Sidoarjo Saiful Ilah berulang kali meminta warga korban lumpur Lapindo melupakan tragedi yang terjadi lebih dari satu dekade lalu itu.

    Berdasarkan penelusuran Tempo, sebelum menjadi kepala daerah Saiful adalah pengusaha industri padat modal, seperti pabrik velg motor, pabrik panci, dan pabrik bahan baku obat nyamuk.

    Saiful Ilah juga pernah menduduki berbagai jabatan komisaris dan direktur di sejumlah perusahaan.

    Setelah malang melintang di dunia bisnis, Saiful Ilah terjun ke dunia politik. Dia pernah menjabat Bendahara PKB Kabupaten Sidoarjo pada 1998-2001.

    Selanjutnya, pada 2002 hingga saat ini, Saiful Ilah menjabat Ketua DPC PKB Kabupaten Sidoarjo.

    Pada 2005, dia terpilih menjadi Wakil Bupati Sidoarjo (2005–2010). Lima tahun setelahnya, Saiful Ilah menjabat bupati (2010–2015). Dia terpilih kembali sehingga menjabat Bupati Sidoarjo untuk periode kedua pada 2015-2020).

    Saat ini pengujung kekuasaan Saiful Ilah menyusul Pemilihan Bupati Sidoarjo dalam Pilkada 2020 yang akan digelar September nanti.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Rencana dan Anggaran Pemindahan Ibu Kota, Ada Tiga Warga Asing

    Proyek pemindahan ibu kota negara ke Kalimantan Timur dieksekusi secara bertahap mulai 2020. Ada tiga warga asing, termasuk Tony Blair, yang terlibat.