Polisi: Ponsel Tersangka Kasus Novel Baswedan Antre Diperiksa

Reporter:
Editor:

Endri Kurniawati

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Penyidik senior KPK Novel Baswedan bersama kuasa hukumnya Saor Siagian usai menjalani pemeriksaan saksi selama 8 jam di Polda Metro Jaya, Jakarta Selatan, Senin, 6 Januari 2020. TEMPO/M Julnis Firmansyah

    Penyidik senior KPK Novel Baswedan bersama kuasa hukumnya Saor Siagian usai menjalani pemeriksaan saksi selama 8 jam di Polda Metro Jaya, Jakarta Selatan, Senin, 6 Januari 2020. TEMPO/M Julnis Firmansyah

    TEMPO.CO, Jakarta - Kepala Biro Penerangan Masyarakat Mabes Polri Brigadir Jenderal Argo Yuwono menuturkan, penyidik hingga kini masih memeriksa ponsel milik dua tersangka kasus penganiayaan Novel Baswedan, Ronny Bugis dan Rahmat Kadir Mahulette. Argo mengatakan, lamanya pemeriksaan ponsel di Labotarium Forensik dikarenakan masih menunggu antrean. "Tergantung antrean, kan seluruh Indonesia," kata dia di Mabes Polri, Jakarta Selatan, pada Selasa, 7 Januari 2020.  

    Pemeriksaan ponsel milik dua tersangka itu mulai dilakukan pada 31 Desember 2019. Argo mengatakan, penyidik ingin menggali bukti tambahan yang bisa jadi tertinggal dalam ponsel itu. "Kami akan melihat di sana apa (ada bukti).”

    Polisi menetapkan Ronny Bugis dan Rahmat Kadir Mahulette sebagai tersangka kasus Novel Baswedan pada 27 Desember 2019. Keduanya merupakan polisi aktif dari Korps Brimob.

    Polisi membidik keduanya menggunakan pasal penganiayaan. Rahmat diduga merupakan orang yang menyiramkan air keras ke Novel. Sedangkan Ronny Bugis, kata polisi, bertugas mengantarkan Rahmat.

    Saat akan dipindahkan dari tahanan Polda Metro Jaya ke Badan Reserse Kriminal Mabes Polri, Rahmat mengatakan motifnya menyerang Novel Baswedan. "Tolong dicatat, Novel adalah pengkhianat," kata dia.



     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Rencana dan Anggaran Pemindahan Ibu Kota, Ada Tiga Warga Asing

    Proyek pemindahan ibu kota negara ke Kalimantan Timur dieksekusi secara bertahap mulai 2020. Ada tiga warga asing, termasuk Tony Blair, yang terlibat.