Bareskrim Bakal Usut Pembalakan Liar di Gunung Halimun Salak

Reporter:
Editor:

Amirullah

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Sejumlah warga mengamati kerusakan yang terjadi akibat banjir bandang di Desa Sajira, Lebak, Banten, Rabu, 1 Januari 2020.  Ribuan warga mengungsi di sejumlah tempat yang aman seperti rumah ibadah, majelis taklim, gedung sekolah dan perkantoran. ANTARA/Muhammad Bagus Khoirunas

    Sejumlah warga mengamati kerusakan yang terjadi akibat banjir bandang di Desa Sajira, Lebak, Banten, Rabu, 1 Januari 2020. Ribuan warga mengungsi di sejumlah tempat yang aman seperti rumah ibadah, majelis taklim, gedung sekolah dan perkantoran. ANTARA/Muhammad Bagus Khoirunas

    TEMPO.CO, Lebak - Kepala Badan Reserse dan Kriminal (Bareskrim) Polri Komisaris Jenderal Listyo Sigit Prabowo meninjau lokasi banjir bandang dan longsor ke posko di Sajira Kabupaten Lebak, Banten. Listyo berjanji akan mengusut dugaan penambangan dan pembalakan liar di Kawasan Taman Nasional Gunung Halimun Salak (TNGHS).

    "Di sana nanti akan didalami, apakah karena masalah adanya hutan yang tipis, atau kondisi tanahnya yang labil, dan di situ juga pernah ada tambang-tambang. Nanti semuanya akan kami cek," kata Listyo di Posko Gedung PGRI Sajira, Kabupaten Lebak, Banten, Senin, 6 Januari 2020.

    Gundulnya Gunung Halimun diduga menjadi penyebab terjadinya bencana banjir bandang dan longsor di Kabupaten Lebak. Akibat peristiwa tersebut ribuan rumah rusak, sejumlah jembatan putus dan sembilan orang meninggal dunia.

    Ia mengatakan, proses penyelidikan dan penyidikan di dalam kawasan hutan konservasi itu akan dilakukan setelah masa tanggap darurat bencana selesai dan kondisi korban banjir mulai membaik.

    Untuk saat ini, dia meminta semua pihak terutama Polri, untuk melakukan proses pertolongan, evakuasi dan pembersihan rumah warga terdampak bencana alam terlebih dahulu.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Sebab dan Pencegahan Kasus Antraks Merebak Kembali di Gunungkidul

    Kasus antraks kembali terjadi di Kabupaten Gunungkidul, DI Yogyakarta. Mengapa antraks kembali menjangkiti sapi ternak di dataran tinggi tersebut?