Kurawa Ancam Balik Media yang Ingin Gunakan Jalur Hukum

Reporter:
Editor:

Amirullah

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan mengikuti kerja bakti pascabanjir di Kelurahan Makasar, Jakarta Timur, Ahad, 5 Januari 2019. Warga Kelurahan Makasar menyatakan bahwa banjir kali ini merupakan yang terparah dibandingkan dengan banjir yang terjadi pada 2002, 2007, dan 2012. TEMPO/Yusuf Manurung

    Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan mengikuti kerja bakti pascabanjir di Kelurahan Makasar, Jakarta Timur, Ahad, 5 Januari 2019. Warga Kelurahan Makasar menyatakan bahwa banjir kali ini merupakan yang terparah dibandingkan dengan banjir yang terjadi pada 2002, 2007, dan 2012. TEMPO/Yusuf Manurung

    TEMPO.CO, Jakarta - Alih-alih mencabut atau meminta maaf atas tudingannya, pemilik akun twitter @kurawa mengancam balik media yang hendak menggunakan jalur hukum atas cuitannya yang menuduh sejumlah media dibayar Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan untuk meningkatkan citra Anies.

    "Media-media yang bersikeras mau gunakan jalur hukum pada lupa dengan kekuatan netizen di kasus sebelumnya: kalau sudah ada gerakan uninstall/blok ramai-ramai, gerakan kasih bintang 1 di playstore. Ruginya tentu gak terhitung. Gue gak anjurkan tapi ingat solidaritas gak bisa gue bendung," cuit pemilik akun twitter @kurawa pada Senin, 6 Januari 2020.

    Sebelumnya, akun Twitter @kurawa pada 5 Januari 2020 pukul 12.15 WIB mengunggah empat tangkapan layar berita dari kompas.com, detik.com, liputan6.com, dan kumparan.com.

    Semua berita dari media itu memuat peristiwa saat warga meneriaki Anies sebagai gubernur rasa presiden kala mengikuti kerja bakti di Kelurahan Makasar, Jakarta Timur, Ahad kemarin. Adapun berita yang dimuat kompas.com berjudul 'Anies Kerja Bakti saat Hujan di Kelurahan Makasar, Warga: Gubernur DKI Rasa Presiden.'

    Akun Twitter @kurawa menuding bahwa Anies telah membayar media tersebut dengan uang ratusan juta. "Diketawain sama orang advertising media neh, Gabener briefing beritanya serupa gini : Jorok banget caranya guyur ratusan juta beli berita disemua media online kagak mutu gini," seperti dikutip dari cuitan @kurawa.

    Kompas.com dan Kumparan.com telah membantah tudingan tersebut. Kumparan menilai tuduhan tersebut sangat keras dan tidak benar. "Jika ada pembaca yang berkeberatan terhadap pemberitaan kumparan dipersila untuk mengajukan laporan ke @dewanpers".

    Kumparan.com juga meminta pemilik akun Twitter @kurawa mencabut cuitan yang berisi  tuduhan tersebut dan membuat permintaan maaf terbuka dalam waktu 24 jam sejak cuitan disampaikan pada Ahad malam, 5 Januari 2020.

    Jika pencabutan cuitan dan permohonan maaf tidak dilakukan, Kumparan mengancam akan menempuh langkah selanjutnya. Hingga saat ini, Tempo masih berupaya mengonfirmasi kepada pimpinan redaksi Kumparan ihwal langkah apa yang akan diambil tersebut. Kumparan.com maupun Kompas.com belum menyampaikan bahwa mereka akan menempuh jalur hukum atau tidak.

    Tempo juga sudah mencoba meminta konfirmasi Kurawa lewat WhatsApp dan Twitter namun belum dibalas.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Portofolio Saham Asabri Melorot 2013-2017

    PT Asabri mengalami kerugian akibat gegabah mengelola investasi. Badan Pemeriksa Keuangan dan Ombudsman Republik Indonesia curiga ada penyelewengan.