PKS Minta Dahnil Anzar Tak Alergi Prabowo Dikritik soal Natuna

Reporter:
Editor:

Endri Kurniawati

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Staf Khusus Menteri Pertahanan Bidang Komunikasi Publik, Sosial Ekonomi, dan Hubungan Antar Lembaga, Dahnil Anzar Simanjuntak, saat ditemui di Kantor Kementerian Pertahanan, di Jalan Medan Merdeka Barat, Jakarta Pusat, Selasa, 12 November 2019. Tempo/Egi Adyatama

    Staf Khusus Menteri Pertahanan Bidang Komunikasi Publik, Sosial Ekonomi, dan Hubungan Antar Lembaga, Dahnil Anzar Simanjuntak, saat ditemui di Kantor Kementerian Pertahanan, di Jalan Medan Merdeka Barat, Jakarta Pusat, Selasa, 12 November 2019. Tempo/Egi Adyatama

    TEMPO.CO, Jakarta - Juru bicara Partai Keadilan Sejahtera, Muhammad Kholid meminta juru bicara Menteri Pertahanan Dahnil Anzar Simanjuntak tidak menanggapi kritik PKS terhadap Menteri Pertahanan Prabowo Subianto mengenai polemik klaim Cina atas perairan Natuna secara personal. Kholid mengatakan kritik PKS substantif dan proporsional mengenai sikap pemerintah terhadap sebagai bentuk pengawasan kepada pejabat publik.

    "Sejatinya, penguasa itu lebih membutuhkan kritik dibandingkan pujian. Jangan alergi dengan kritikan karena kritikan itu menyehatkan bagi kekuasaan," kata Kholid kepada Tempo, Ahad, 5 Januari 2020.

    PKS meminta  Prabowo tak bersikap lembek dan santai. Staf khusus Prabowo, Dahnil Anzar, kemudian menyebut pernyataan PKS itu sarat modus men-down grade (merendahkan) Prabowo.

    Kholid mengatakan, PKS sebagai sahabat mengingatkan Prabowo agar tetap bersikap benar dan pantas dalam menjaga kedaulatan NKRI. Menurut dia, Istana, Menteri Luar Negeri, dan Tentara Nasional Indonesia sudah mengeluarkan pernyataan yang tepat mengenai masuknya kapal Cina serta klaim Negeri Tirai Bambu itu atas kawasan Natuna. "Jadi jangan membingungkan publik dengan sikap yang terkesan lembek dan santai. Itu tidak baik dan tidak pantas," ujar Kholid.

    Menteri Pertahanan Prabowo Subianto sebelumnya mengajak semua pihak bersikap dingin menanggapi polemik kapal Cina di Natuna. Ketua Umum Partai Gerindra itu beralasan, Indonesia dan Cina adalah dua negara yang bersahabat.

    Kholid berpendapat ada saatnya pemerintah Indonesia menunjukkan sikap tegas, lugas, dan berwibawa. Sebab, ucap dia, isu Natuna menyangkut kedaulatan bangsa. Ia menyebut Prabowo sebagai seorang nasionalis dan patriot. “Karena itu, kami minta tunjukan hal tersebut dalam sikap dan pernyataaannya.” Pilihan diksi dalam diplomasi sangat penting karena itu mencerminkan sikap politik Indonesia.



     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Portofolio Saham Asabri Melorot 2013-2017

    PT Asabri mengalami kerugian akibat gegabah mengelola investasi. Badan Pemeriksa Keuangan dan Ombudsman Republik Indonesia curiga ada penyelewengan.