Polisi: Penyerang TNI di Perbatasan Papua Dipimpin Jefri Pagawak

Reporter:
Editor:

Juli Hantoro

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi TNI AD. Tempo/Suryo Wibowo

    Ilustrasi TNI AD. Tempo/Suryo Wibowo

    TEMPO.CO, Jakarta - Kapolda Papua Irjen Paulus Waterpauw mengatakan, kelompok kriminal bersenjata (KKB) yang menyerang anggota Satgas Pengamanan Perbatasan RI-Papua Nugini di wilayah Kabupaten Keerom dipimpin Jefri Pagawak dan Jemi Wenda. Jemi merupakan anak Matias Wenda, salah satu pimpinan Organisasi Papua Merdeka (OPM) yang tinggal di sekitar Bewani, Papua Nugini.

    "Memang benar kedua orang itu diduga memimpin anggotanya yang berjumlah empat orang, dengan membawa tiga pucuk senjata api menyerang anggota TNI hingga menewaskan satu anggota TNI," kata Irjen Waterpauw kepada Antara, di Jayapura, Senin malam, 30 Desember 2019. 

    Dia menyatakan, saat ini tim gabungan TNI-Polri sudah dikerahkan untuk melakukan pengejaran terhadap kelompok tersebut.

    Pengejaran akan terus dilakukan terhadap KKB yang melakukan penembakan hingga menewaskan Sersan Dua Miftakhur itu.

    "Selain menewaskan Serda Miftakhur, dalam insiden tersebut juga mengakibatkan satu anggota Yon Infanteri 713/ST terluka," kata Waterpauw.

    Kapendam XVII Cenderawasih Kol Cpl Eko Daryanto secara terpisah mengatakan, insiden penyerangan yang dilakukan KKB terhadap anggota TNI dari Yonif 713/ST itu terjadi saat anggota sedang mengambil logistik dari Pos Kali Asin.

    Kontak tembak sempat terjadi, dan saat ini kedua korban sudah dievakuasi, kata Eko, seraya menambahkan Prada Juwandy saat ini dirawat di RST Marthen Indey.

    Sedangkan jenazah Serda Miftakhur disemayamkan di Makorem 172/PWY. "Dijadwalkan Selasa, 23 Desember 2019 dievakuasi ke Semarang, Jawa Tengah untuk dimakamkan ke kampung halamannya di Demak," kata Eko.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Portofolio Saham Asabri Melorot 2013-2017

    PT Asabri mengalami kerugian akibat gegabah mengelola investasi. Badan Pemeriksa Keuangan dan Ombudsman Republik Indonesia curiga ada penyelewengan.