Fraksi PKS Setuju Pembentukan Pansus Jiwasraya

Reporter:
Editor:

Syailendra Persada

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Kantor Pusat Asuransi Jiwasraya di kawasan Harmoni, Jakarta. TEMPO/Tony Hartawan

    Kantor Pusat Asuransi Jiwasraya di kawasan Harmoni, Jakarta. TEMPO/Tony Hartawan

    TEMPO.CO, Jakarta - Anggota Dewan Perwakilan Rakyat dari Partai Keadilan Sejahtera (PKS), Hidayat Nur Wahid, menyatakan partainya mendukung dibentuknya panitia khusus terkait kasus Jiwasraya.

    Hidayat mengatakan kasus Jiwasraya yang diduga merugikan negara hingga Rp 13,7 triliun itu perlu upaya penyelesaian dengan pendekatan komprehensif. "Perlu ada pendekatan yang serius. Dua pendekatan sekaligus, pendekatan hukum iya, pendekatan politik melalui pansus DPR iya," kata Hidayat di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Senin, 30 Desember 2019.

    Hidayat mengatakan, Fraksi PKS juga sudah secara resmi mendukung dibentuknya pansus. Sikap itu disampaikan Ketua Fraksi PKS Jazuli Juwaini. Selain itu, kata Hidayat, sejumlah anggota DPR dari lintas partai juga sudah menyatakan dukungan.

    Hidayat menyebut, beberapa yang turut mendorong dibentuknya pansus Jiwasraya di antaranya politikus Gerindra Fadli Zon, politikus Partai Kebangkitan Bangsa Marwan Jafar, politikus Demokrat Didi Irawadi Syamsuddin. "PDIP saja setuju. Dari PDIP juga ada yang menyatakan setuju," kata Wakil Ketua Majelis Syuro PKS ini.

    Politikus partai banteng yang bersuara ihwal pansus Jiwasraya ialah Deddy Sitorus. Anggota Komisi BUMN DPR itu menyatakan kegagalan Jiwasraya dalam membayar klaim polis nasabah adalah masalah serius. "Kasus Jiwasraya ini menyangkut uang rakyat, sehingga proses politik harus dilakukan," kata Deddy di Jakarta, Ahad, 29 Desember 2019.

    Maka dari itu, Hidayat meyakini pansus Jiwasraya bisa terbentuk di DPR. Pembentukan pansus pun hanya perlu diusulkan oleh setidaknya 25 orang yang berasal dari dua fraksi atau lebih.

    Hidayat mengatakan, pansus Jiwasraya juga mendesak dibentuk mengingat besarnya kerugian yang ditimbulkan. Angka kerugian kasus ini, kata dia, lebih besar dari skandal BLBI (Rp 4,58 triliun) dan Bank Century (Rp 7,4 triliun).

    "Dan menyedihkan sekali ini melibatkan dana nasabah yang mereka tidak semuanya adalah orang-orang kaya, mereka justru menjadikan Jiwasraya sebagai gantungan hari tua mereka, tapi kemudian mendapatkan kasus yang demikian sangat mengerikan," ujar dia.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Portofolio Saham Asabri Melorot 2013-2017

    PT Asabri mengalami kerugian akibat gegabah mengelola investasi. Badan Pemeriksa Keuangan dan Ombudsman Republik Indonesia curiga ada penyelewengan.