Emirsyah Satar Juga Didakwa Pencucian Uang. Ini Rinciannya

Reporter:
Editor:

Syailendra Persada

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Mantan Direktur Utama PT Garuda Indonesia, Emirsyah Satar (kanan), menaiki mobil tahanan seusai menjalani pemeriksaan di gedung Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Rabu, 8 Agustus 2019. Penyidik resmi melakukan penahanan selama 20 hari pertama terhadap Emirsyah Satar. TEMPO/Imam Sukamto

    Mantan Direktur Utama PT Garuda Indonesia, Emirsyah Satar (kanan), menaiki mobil tahanan seusai menjalani pemeriksaan di gedung Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Rabu, 8 Agustus 2019. Penyidik resmi melakukan penahanan selama 20 hari pertama terhadap Emirsyah Satar. TEMPO/Imam Sukamto

    TEMPO.CO, Jakarta - Mantan Direktur Utama PT Garuda Indonesia (Persero) Emirsyah Satar juga didakwa melakukan tindak pidana pencucian uang terkait kasus pengadaan pesawat dan mesin pesawat di PT Garuda Indonesia.

    "Terdakwa melakukan kejahatan yang diancam dengan pidana pokok yang sejenis berupa menempatkan, mentransfer, mengalihkan, membelanjakan, membayarkan, menghibahkan, menitipkan, membawa keluar negeri, mengubah bentuk, menukarkan dengan mata uang, atau surat berharga atau perbuatan-perbuatan lain atas harta kekayaan," kata Jaksa Wawan Yunawarto saat membacakan dakwaan di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi, Jakarta, pada Senin, 30 Desember 2019. 

    Lebih lanjut, Jaksa Wawan membeberkan, pencucian uang itu dilakukan melalui sejumlah cara. Pertama, Emirsyah didakwa menitipkan uang sejumlah US$ 1.458.364,28 ke rekening atas nama Soetikno Soedarjo di Standard Chartered Bank. Lalu, ia juga mencuci uang dengan membayar lunas hutang kredit di UOB Indonesia dan membayar satu unit apartemen di Melbourne, Australia.

    Emirsyah juga mentransfer uang menggunakan rekening atas nama Woodlake International di UBS ke rekening lain atas nama Badilla Suhodo di HSBC untuk kemudian ditransfer kepada rekening BCA atas nama Sandrina Abubakar, atas nama Sandrani Abubakar, dan rekening atas nama Eghadana Rasyid Satar di Commonwealth Bank di Australia.

    Kemudian, uang hasil suap juga digunakan Emirsyah untuk membiayai renovasi rumah di daerah Kebayoran Lama, serta menempatkan rumah di daerah Permata Hijau. Di mana rumah itu ditempati atas nama Sandrina Abubakar untuk memperoleh jaminan memperoleh kredit dari Bank UOB Indonesia senilai USD 840.000.

    Terakhir, ia bersama Soetikno juga mengambil alih kepemilikan satu unit apartemen di Singapura kepada Innospace Investment Holding.

    "Kegiatan tersebut merupakan upaya terdakwa dan Emirsyah Satar untuk menyembunyikan atau menyamarkan asal-usul harta kekayaan Emirsyah Satar yang berasal dari fee atas pengadaan pesawat," kata jaksa.

    Alhasil, Emrisyah diancam Pasal 3 Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 8 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang jo. Pasal 55 ayat (1) ke-1 dan Pasal 65 ayat (1) Kitab Undang-Undang Hukum Pidana.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Virus Korona Menyebabkan Wabah Mirip SARS di Kota Wuhan, Cina

    Kantor WHO cabang Cina menerima laporan tentang wabah mirip SARS yang menjangkiti Kota Wuhan di Cina. Wabah itu disebabkan virus korona jenis baru.