TEMPO.CO, Jakarta - Mantan Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin berbicara ihwal relasi agama dengan kebudayaan dan relasi kebudayaan dengan kemanusiaan dalam acara Haul ke-10 KH. Abdurrahman Wahid atau Gus Dur di Masjid Jami Al-Munawaroh, Ciganjur, Sabtu, 28 Desember 2019.
Menurut Lukman, dia ketiban sampur menggantikan KH. Mustofa Bisri yang berhalangan hadir dalam acara itu. Dalam paparannya, Lukman menyebut agama, kebudayaan, dan kemanusiaan adalah tiga dimensi yang tidak bisa dipisahkan satu sama lain.
Kebudayaan, kata Lukman, merupakan wujud kemanusiaan. Bicara kemanusiaan, ujar dia, pasti juga bicara pokok-pokok ajaran agama. "Nah, oleh karenanya Gus Dur sering menyampaikan bahwa agama itu untuk memanusiakan manusia. Itulah hakikat agama," ujar Lukman.
Jika memahami relasi tiga dimensi ini, kata Lukman, semua potensi konflik bisa diredam. Tak akan ada perpecahan. Namun, kata Lukman, saat ini banyak yang tidak memahami relasi ketiganya sehingga konservatisme yang eksklusif dan ekstrim dalam beragama masih terjadi di Indonesia.
"Kondisi ini mengancam kehidupan integrasi bangsa. Kita perlu mewaspadai konservatisme eksklusif dan ekstrim yang memaksakan kehendak, kemudian menyalah-nyalahkan pihak yang tidak sama dengan dirinya dan menggunakan cara-cara kekerasan untuk memaksakan kehendak," ujar kader PPP ini.
Menurut Lukman, kondisi ini perlu mendapat perhatian serius. Konservatisme eksklusif dan ekstrem ini, ujar Lukman, terjadi karena gairah spiritualitas tidak diimbangi semangat keberagamaan
"Akibatnya, agama yang mestinya menentramkan menjadi mengancam. Agama yang mestinya disampaikan dengan santun, kemudian disampaikan dengan penuh kegarangan," ujar Lukman Hakim Saifuddin.
Untuk itu, kata Lukman, pendidikan agama semestinya fokus mengajarkan pokok-pokok ajaran agama yang berelasi dengan kemanusiaan dan kebudayaan. Kementerian Agama, ujar Lukman, di masa kepemimpinannya sudah mengusung moderasi beragama dan bukan moderasi agama.
"Mohon jangan disalahpahami, bukan agamanya yang dimoderasi, tapi cara kita beragama itu yang harus dimoderasi. Agama dari Tuhan sudah pasti sempurna, tapi cara kita memahami agama dan mengamalkan ajaran agama itu yang harus senantiasa dijaga pada jalurnya yang moderat," ujar Lukman.